Tugas Akhir, Lima Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Pilih Jalur Nonskripsi dengan Karya Seni Pertunjukan

IMG-20260602-WA0006
Diseminasi Karya Tugas Akhir Proyek Inovatif Seni Pertunjukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali yang digelar di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu, (30/5).

GIANYAR-fajarbali.com | Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi budaya Bali pada era modern, seni pertunjukan kembali menunjukkan perannya sebagai ruang refleksi untuk merawat harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

Gagasan tersebut mewarnai kegiatan Diseminasi Karya Tugas Akhir Proyek Inovatif Seni Pertunjukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali yang digelar di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu, (30/5).

Diseminasi tersebut menghadirkan lima karya tugas akhir mahasiswa angkatan 2022 yang merepresentasikan capaian pembelajaran di bidang seni pertunjukan.

Selain sebagai bagian dari ujian akademik, kegiatan ini juga menjadi sarana mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan konseptual, kreativitas artistik, manajerial produksi, serta kemampuan berkolaborasi dalam mewujudkan sebuah karya pertunjukan yang utuh.

Lima Karya Inovatif

Ketua Program Studi Pendidikan Sendratasik, FBS, UPMI Bali, I Gede Gusman Adigunawan, S.Sn., M.Sn., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi tugas akhir non-skripsi yang memberi ruang kepada mahasiswa untuk menghasilkan karya inovatif yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun artistik.

Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya diuji dari sisi teori, tetapi juga praktik penciptaan seni yang melibatkan berbagai unsur pendukung.

“Lima karya yang dipentaskan dalam diseminasi tersebut terdiri atas karya tabuh kreasi, baleganjur kreasi, dan tari kreasi yang berangkat dari kekayaan tradisi lokal Bali,” kata Gusman yang akrab dipanggil Wawan.

Karya pertama berjudul “Ruwating Bumi” ciptaan I Made Upadana. Karya tabuh kreasi ini terinspirasi dari tradisi sakral Perang Gandu di Desa Adat Tumbak Bayuh. Melalui eksplorasi musikal, karya tersebut menggambarkan konsep Rwa Bhineda, pertarungan antara dua kekuatan yang berbeda, sekaligus proses penyucian dan penciptaan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

BACA JUGA:  Pencetus Tabungan Yadnya BNI Raih Doktor

Karya kedua adalah tari kreasi kekebyaran “Nalaskara” karya I Kadek Oka Prawira Wibawa. Terinspirasi dari ritual Siat Geni, karya ini menjadikan api sebagai simbol energi kehidupan. Gerak-gerak dinamis yang ditampilkan merepresentasikan perjuangan manusia dalam mengendalikan diri untuk mencapai keseimbangan dan harmoni hidup.

Selanjutnya, I Gusti Lanang Agung Aditya Darma Putra menampilkan karya tabuh kreasi inovatif “Samagama” yang berangkat dari tradisi Memasar dalam Upacara Ngusaba Desa di Desa Adat Menanga, Karangasem. Karya ini menerjemahkan makna kebersamaan dan gotong royong ke dalam bahasa musikal melalui pengolahan ritme, dinamika, dan struktur bunyi gamelan Bali yang menggambarkan suasana pertemuan sosial dan spiritual masyarakat.

Sementara itu, Putu Ayu Kartika Dewi menghadirkan tari kreasi “Madedari” yang terinspirasi dari fenomena sakral Dedari di Desa Duda Utara. Karya tersebut mengangkat perjalanan batin manusia dalam ruang spiritual yang mempertemukan kesadaran manusia dengan kekuatan suci yang hidup dalam tradisi. Melalui gerak yang lembut dan ekspresif, karya ini merefleksikan nilai kesucian, keseimbangan, dan spiritualitas masyarakat Bali.

Karya terakhir adalah baleganjur kreasi “Temurun Warsa” ciptaan I Putu Rizky Anggara Putra. Terinspirasi dari Upacara Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu, karya ini menggambarkan kegelisahan, harapan, dan keyakinan masyarakat terhadap turunnya hujan sebagai sumber kehidupan. Melalui dentuman ritmis baleganjur yang dinamis, karya tersebut menyuarakan hubungan spiritual manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Menariknya, penyelenggaraan diseminasi ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa yang menempuh mata kuliah Tugas Akhir Semester VIII dengan mahasiswa Semester VI pada mata kuliah Manajemen Produksi Seni Pertunjukan.

“Seluruh proses, mulai dari perencanaan, produksi, hingga publikasi pertunjukan, dikelola secara kolaboratif sehingga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dalam mengelola sebuah produksi seni pertunjukan profesional,” tandas pemilik Sanggar Gumi Art itu.

BACA JUGA:  Rakorda Program KKBPK Provinsi Bali 2018, Evaluasi Kampung KB Menuju Masyarakat Berkualitas

Rektor UPMI Bali yang diwakili Wakil Rektor (WR) II, Dr. Drs. I Wayan Sudiarsa, M.Si., mengapresiasi pelaksanaan diseminasi karya tugas akhir proyek inovatif seni pertunjukan mahasiswa Prodi Pendidikan Sendratasik itu.

Menurut Sudiarsa, diseminasi ini menunjukkan Prodi Pendidikan Sendratasik sudah menerapkam kurikulum outcome base education (OBE) yang menekankan pada luaran atau produk. Produk karya inovatif seni pertunjukan itu sebagai sumbangsih lulusan Prodi Sendratasik bagi masyarakat.

Dekan FBS UPMI Bali, Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., menegaskan sejak tahun 2025, FBS memberi ruang bagi mahasiswanya untuk mengambil tugas akhir nonskripsi sesuai amanat Permendiktisaintek No. 39/2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

Langkah ini sebagai terobosan FBS UPMI Bali dalam sistem pendidikan tinggi yang lebih fleksibel, lebih relevan, dan lebih berorientasi pada masa depan. Terobosan ini memperkaya cara menilai kecakapan dan kontribusi lulusan.

Khusus di Prodi Pendidikan Sendratasik, bentuk tugas akhirnya dapat berupa proyek inovatif seni pertunjukan. Proyek seni pertunjukan yang dibuat tetap dilengkapi dengan laporan tugas akhir sebagai pertanggungjawaban proses kreatif serta menjelaskan relevansi proyek inovatif tersebut dengan pembelajaran seni budaya maupun pendidikan seni budaya pada umumnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat Desa Adat Batuan, civitas academika UPMI Bali, komunitas seni, sanggar, hingga masyarakat pecinta seni pertunjukan yang memadati lokasi pementasan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa seni pertunjukan tidak hanya menjadi ruang ekspresi akademik, tetapi juga wahana penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Melalui diseminasi ini, Program Studi Pendidikan Sendratasik UPMI Bali menegaskan komitmennya dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi pedagogis dan akademik, tetapi juga mampu menciptakan karya seni yang inovatif, berakar pada kearifan lokal, serta relevan dengan perkembangan masyarakat dan budaya Bali masa kini. (gde)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top