‘Doa’ Hantui Managemen Seni di Bali

DENPASAR-fajarbali.com | “Secara umum permasalahan manajemen seni di Bali disebabkan ‘Doa’ yang tidak bagus,” kata pekerja seni, Kadek Wahyudita, S.Sn saat menyampaikan pandangannya dalam workshop ‘Art Management dan Artistik’ yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dalam rangkaian Gelar Seni Akhir Pekan (GSAP) Bali Mandara Nawanatya III, di Taman Budaya, Denpasar, Jumat (09/03/2018).

Menurut Wahyudita ‘Doa’ itu merupakan singkatan dari Dana, Orang dan Alat-alat penunjang lainnya. Alat-alat itu sepeti sarana dan prasarana, portofolio, synopsis, tata letak gamelan dan sebagainya. 

Selain itu, menurut Wahyudita, ada beberapa aspek kelemahan manajemen yang sering dijumpai dalam komunitas  atau sanggar seni di Bali. 

“Ada empat aspek lain yang juga lemah di kalangan komunitas seni di Bali, yaitu manajemen mewujudkan karya, manajemen di dalam pementasan seperti artistic panggung dan lainnya, manajemen publikasi dan menajemen dokumentasi dan file,” jelas Wahyudita.

Wahyudita juga mengingatkan, terkait penyelenggaraan event pertunjukkan agar berjalan lancar, maka penting dibentuk sebuah event management untuk mengatur kelancaran acara.

Pembicara kedua dalam workshop tersebut, menampilkan pembicara I Wayan Sumahardika yang banyak bergelut di belakang panggung dunia teater di Bali.

Pada kesempatan itu Sumahardika menyinggung soal arti penting artistic panggung yang dapat menghidupkan sebuah pertunjukkan. 

Termasuk juga mengulas tentang arti penting tata rias dan busana dalam memberi jiwa pada karakter tokoh dan suasana ruang dalam pementasan. Termasuk soal tata cahaya , tata musik. 

“Tata panggung itu dapat membangun suasana dan semangat lakon,” tegas Sumahardika sembari menunjukkan beberapa contoh tata panggung.

Selain itu dalam tata panggung menurut Sumahardika dalam tata panggung yang perlu diperhatikan beberapa aspek. Diantaranya, periode sejarah lakon, lokasi kejadian, struktur dan karakter peran dan musim.

Masih menurut Sumahardika, di Bali orientasi kerja statistic masih cenderung berada di wilayah permukaan yang mengedepankan ‘apa yang tampak’ di mata. 

“Ia (baca: artistic-red) belum mampu menjadi semacam teks utuh yang menyentuh sekaligus memborbardir emosi, ingatan, dan psikologis penonton,” tegas Sumahardika. 

Workshop ini juga dihadiri guru, dosen, siswa dan mahasiswa yang mewakili lembaga dan komunitas seni masing-masing di Bali. (Alt)

 Save as PDF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Salah Paham Bermain Remi, Tukang Ojek Tusuk Penjaga Money Changer

Sab Mar 10 , 2018
DENPASAR-fajarbali.com | Diduga salah paham dalam permainkan kartu remi, penjaga money changer I Ketut Ngarta alias Kampek (40) nyaris tewas lantaran ditusuk oleh temannya sendiri berprofesi sebagai tukang ojek Kadek Jaya (24), Jumat (9/3/2018).  Save as PDF

Berita Lainnya