Transparansi Mengubah Sampah Menjadi Harapan

IMG-20260716-WA0046
Tim Pengabdian Unwar melakukan pendampingan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) Sadu Kencana, Desa Dauh Peken, Tabanan.

TABANAN-fajarbali.com | Sampah masih menjadi persoalan pelik yang dihadapi oleh hampir seluruh daerah di Indonesia. Laju pertambahan jumlah penduduk, pergeseran pola konsumsi masyarakat, serta terbatasnya kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi pemicu utama terus melonjaknya volume sampah dari tahun ke tahun.

Namun, di balik tumpukan masalah tersebut, sesungguhnya tersimpan peluang besar apabila sampah dikelola dengan baik dan bijak.

Salah satu potret nyata dari upaya ini dapat dilihat di Desa Dauh Peken, Kabupaten Tabanan. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) Sadu Kencana yang bersinergi dengan enam Bank Sampah, masyarakat setempat telah berupaya nyata menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis 3R.

Kehadiran TPS3R ini terbukti tidak hanya mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke lingkungan, tetapi juga membuka keran peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan sampah yang bernilai jual.

Tantangan Tata Kelola dan Administrasi

Kendati demikian, keberhasilan pengelolaan sampah di lapangan ternyata tidak cukup hanya mengandalkan semangat gotong royong. Aspek kelembagaan yang sehat dan manajemen yang baik justru menjadi faktor penentu utama keberlanjutan program.

Faktanya, berbagai persoalan administratif masih kerap ditemukan di tingkat tapak. Mulai dari pencatatan keuangan yang belum tertata, laporan berkala yang belum tersusun, hingga ketiadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas untuk memandu para pengelola. Kondisi ini menyebabkan proses administrasi dan pengambilan keputusan strategis menjadi kurang optimal.

Padahal, transparansi dan akuntabilitas merupakan fondasi utama dalam setiap organisasi, termasuk organisasi pengelola sampah.

Tanpa adanya sistem pencatatan yang tertib, pengelola akan kesulitan memantau kondisi riil keuangan, mengevaluasi kinerja berkala, maupun mempertanggungjawabkan penggunaan dana kepada masyarakat luas.

Sentuhan Akademis: Memperkuat Manajemen

Berangkat dari realitas tersebut, Universitas Warmadewa (Unwar) hadir mengambil peran melalui program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan manajemen dan tata kelola di TPS3R Sadu Kencana.

BACA JUGA:  Mengubah Sampah Menjadi Peluang, Ayodya Resort Bali dan Diversey Meluncurkan 'PlasticShreds' untuk Selamatkan Lautan

Dr. Ni Made Intan Priliandani, S.E., M.Si., tim Pengabdian Unwar mengatakan, program ini dirancang komprehensif, tidak hanya memberikan pelatihan pencatatan keuangan sederhana, tetapi juga mendampingi pengurus secara langsung.

Intan mengurai, pendampingan meliputi penyusunan laporan keuangan dan kegiatan, pembenahan struktur organisasi, hingga perumusan SOP operasional.

Hasil dari kolaborasi ini pun mulai menunjukkan tren positif. Pengurus kini mampu melakukan pencatatan transaksi secara lebih sistematis melalui format buku kas masuk dan keluar yang teratur.

Dampaknya pun menurut Intan, langsung terasa, yakni, mempermudah pemantauan, kepercayaan meningkat, serta terciptanya standarisasi kerja.

"Dengan pedoman kerja yang jelas, pelayanan yang diberikan menjadi lebih konsisten, dan keberlangsungan TPS3R tidak lagi bergantung pada figur atau individu tertentu saja," jelas Intan.

Menuju Ekonomi Sirkular dan Target SDGs

Langkah penguatan administrasi ini menariknya ikut memperkokoh implementasi konsep ekonomi sirkular di Desa Dauh Peken. Sampah organik yang dulunya menjadi beban dan dibuang begitu saja, kini diolah menjadi pupuk kompos bernilai ekonomis.

TPS3R bertransformasi dari sekadar tempat pembuangan menjadi pusat pemberdayaan ekonomi sekaligus sarana edukasi lingkungan yang hidup.
Secara makro, inisiatif lokal ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Terutama dalam mendukung: SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, dan SDGs 16: Kelembagaan yang Efektif dan Akuntabel.

Menatap Masa Depan

Tentu perjalanan tidak berhenti sampai di sini. Tantangan masa depan adalah bagaimana merawat dan mengembangkan sistem yang telah terbangun agar tetap konsisten berkelanjutan.

Langkah strategis berikutnya yang perlu dibidik meliputi digitalisasi pencatatan keuangan, peningkatan kapasitas SDM secara berkala, serta pengembangan unit usaha berbasis produk olahan sampah agar TPS3R Sadu Kencana semakin mandiri.

BACA JUGA:  SDN 2 Besan Menangkan Tirtanovasi dengan Air di Taman Hujan

Pengelolaan sampah pada akhirnya bukan sekadar urusan sapu dan kebersihan fisik lingkungan. Lebih dalam dari itu, ini adalah gerakan membangun budaya akuntabilitas, memantik partisipasi aktif warga, dan menegaskan komitmen terhadap ekonomi hijau.

"Ketika tata kelola dikelola dengan transparan dan akuntabel, sampah tidak lagi menjadi beban atau musibah, melainkan berkah yang membawa harapan bagi lingkungan dan generasi masa depan," pungkasnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top