Tingkatkan Keselamatan Pasien, RS Ngoerah Hadirkan Medistim MiraQ Cardiac untuk Bedah Jantung

2026-06-05-at-21.08.38
RSUP Ngoerah hadirkan teknologi Medistim MiraQ Cardiac, operasi bypass jantung kini lebih presisi dan objektif.

DENPASAR-fajarbali.com | Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar, Bali, resmi memperkuat layanan kardiovaskularnya dengan menghadirkan Medistim MiraQ Cardiac. Teknologi mutakhir ini memungkinkan tim medis melakukan pengukuran dan verifikasi aliran darah secara langsung (real-time) selama operasi bypass jantung koroner atau Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) berlangsung.

Kehadiran teknologi ini menjadi lompatan besar dalam dunia kedokteran dalam negeri. Pasalnya, keberhasilan operasi CABG tidak hanya bertumpu pada keberhasilan pemasangan graft (jalur bypass baru), melainkan juga pada kualitas aliran darah yang melewati jalur tersebut. Selama ini, evaluasi pasca-pemasangan pembuluh darah baru masih didominasi oleh penilaian visual dan pengalaman subjektif dokter bedah.

Medistim MiraQ Cardiac hadir menjawab tantangan tersebut dengan memanfaatkan metode Transit Time Flow Measurement (TTFM) dan pencitraan ultrasonografi frekuensi tinggi. Lewat metode ini, fungsi setiap graft yang dipasang dapat diverifikasi secara objektif saat pasien masih berada di meja operasi.

Direktur Utama RS Ngoerah, Dr. I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma, S.Kp., M.Kes, menegaskan bahwa adopsi teknologi ini adalah bagian dari transformasi layanan kesehatan yang berfokus pada keselamatan pasien. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap tindakan medis didasarkan pada data konkret.

"Dalam bedah jantung, presisi merupakan faktor yang sangat menentukan hasil akhir. Medistim MiraQ Cardiac memberikan kemampuan kepada tim bedah untuk memastikan bahwa setiap graft yang dipasang berfungsi optimal sebelum operasi dinyatakan selesai. Dengan kata lain, keputusan klinis tidak hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga didukung oleh data objektif yang dapat diukur," ujar Dr. I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma.

Penggunaan teknologi interoperatif ini memberikan keuntungan klinis yang masif. Jika ditemukan adanya hambatan atau aliran darah yang tidak optimal pada pembuluh darah baru, tim bedah bisa langsung melakukan koreksi seketika di ruang operasi, meminimalkan risiko komplikasi fatal setelah pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.

BACA JUGA:  Kenali dan Cegah Wasir

Dokter Konsultan Bedah Jantung RS Ngoerah, dr. I Komang Adhi Parama Harta, Sp.BTKV, Subspesialis. JD (K) FICS, menjelaskan bahwa alat ini memberikan kepastian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri tim medis maupun pasien.

"Kami tidak hanya melakukan bypass, tetapi juga memastikan bypass tersebut bekerja dengan baik. Teknologi ini membantu meningkatkan presisi tindakan, mengurangi potensi kegagalan graft, serta memberikan keyakinan lebih tinggi terhadap kualitas hasil operasi yang diterima pasien," jelas dr. Adhi.

Lebih lanjut, dr. Adhi menganalogikan bahwa selama ini dokter bedah kerap merasa hasil operasi sudah bagus tanpa adanya bukti otentik. Alat ini bertindak sebagai pemberi persetujuan (approval) resmi bahwa hasil operasi memang berjalan sesuai target anatomis yang diharapkan.

“Alat ini tujuannya untuk menentukan apakah pada saat kita melakukan bypass apakah sudah berhasil graft yang kita pasang, istilah kita patent atau tidak sehingga outcome atau hasil dari operasi akan menjadi lebih baik. Risiko terjadinya gangguan setelah operasi juga menjadi lebih kecil sehingga pasien bisa pulih lebih cepat,” tambah dr. Adhi.

Dalam peluncuran teknologi ini, RS Ngoerah turut menggandeng pakar bedah jantung terkemuka asal Jepang, Prof. Keita Kikuchi, M.D., Ph.D. (Pi Eits Di). Ia membagikan pengalamannya bahwa di Jepang, pemeriksaan aliran darah dengan metode TTFM sudah menjadi bagian dari standar wajib pelayanan operasi jantung modern.

“Kami secara rutin menggunakan transit time flow measurement. Setelah menyelesaikan setiap anastomosis (penyambungan pembuluh darah), kami langsung memeriksa aliran graft menggunakan alat tersebut. Kontrol kualitas ini sangat penting untuk memberikan hasil yang baik dan hasil jangka panjang yang baik untuk pasien,” papar Prof. Keita Kikuchi.

BACA JUGA:  Wabah Corona Mengancam, Masker Ramai Diburu Warga

Prof. Keita Kikuchi menambahkan bahwa di negaranya, tim bedah juga menggunakan ultrasonografi frekuensi tinggi untuk memetakan kondisi aorta pasien. Langkah pencegahan ini krusial dilakukan demi mendeteksi adanya plak atau kalsifikasi pembuluh darah yang berisiko memicu stroke pascaoperasi.

Kehadiran Medistim MiraQ Cardiac di RS Ngoerah ini diharapkan dapat menekan angka devisa negara yang hilang akibat fenomena masyarakat yang gemar berobat ke luar negeri. Berdasarkan data pemerintah, pengeluaran warga Indonesia untuk pengobatan di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia mencapai angka ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.

Rumah sakit rujukan terbesar di Bali dan Nusa Tenggara ini optimis mampu menjadi pusat keunggulan (center of excellence) baru di Indonesia. Dengan tersedianya fasilitas mutakhir yang sejauh ini baru ada di RSUP Ngoerah, Bali kian siap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi utama wisata medis (medical tourism) internasional. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top