Teknologi yang diperkenalkan berupa cubang atau kolam penampungan air yang dilapisi geotekstil, sehingga mampu menampung limpasan air hujan untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber air tambahan ketika debit irigasi menurun.
Sistem pemanenan air hujan ini dinilai sederhana, relatif mudah diterapkan, serta memiliki biaya pembangunan yang lebih terjangkau dibandingkan pembangunan embung permanen, sehingga dapat menjadi alternatif konservasi air bagi lahan pertanian subak.
Konsep tersebut sejalan dengan materi konservasi air yang disampaikan dalam leaflet kegiatan, yaitu memanfaatkan air hujan sebagai cadangan air irigasi guna mendukung keberlanjutan pertanian.
Pada sesi diskusi, Prof. Eryani juga menyoroti pentingnya pengelolaan jaringan irigasi secara partisipatif. Beliau mengimbau agar setiap kerusakan yang terjadi pada saluran irigasi, bangunan bagi, pintu air, maupun infrastruktur pendukung lainnya segera didokumentasikan dengan baik melalui foto, lokasi, dan keterangan kerusakan.
Dokumentasi tersebut kemudian disampaikan kepada instansi terkait agar dapat menjadi dasar dalam proses verifikasi dan tindak lanjut perbaikan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penanganan kerusakan jaringan irigasi sehingga distribusi air kepada petani tetap berjalan optimal.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Pengurus dan anggota Subak Saih Dalung aktif menyampaikan berbagai kondisi yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari ancaman alih fungsi lahan, penurunan debit air irigasi pada musim kemarau, hingga kebutuhan peningkatan infrastruktur irigasi. Diskusi tersebut menghasilkan berbagai masukan yang akan menjadi bahan tindak lanjut dalam pengembangan program pendampingan berikutnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan limbah pertanian, Tim Pengabdian Unwar juga menyerahkan peralatan pembuatan pupuk organik dari sisa jerami padi kepada pengurus Subak Saih Dalung.










