Tiga Jenderal Berkolaborasi Berantas Narkoba, Korupsi dan Terorisme

 

Menurutnya, ada 4 pilar kebangsaan yakni UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, bentuk negara kesatuan republik Indonesia. Keempat pilar inilah yang harus dilestarikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

 

"Ideologi terorisme bila dipaksakan masuk ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan membentur dengan konstitusi dan ideologi bangsa Indonesia. Ideologi teroris anti konstitusi, anti demokrasi, anti kemanusiaan, dan intoleran," tegas jenderal bintang 3 dipundak ini. 

 

Diterangkanya, para pelaku terorisme ini kerap membawa teks agama. Mereka menganggap atas nama Tuhan adalah suatu kebenaran yang mutlak. "Jadi kita semua harus bersama-sama nyatakan tidak menjadi bagian dari pendukung teroris," tegasnya. 

 

Bahkan, kata Komjen Rafli Amar, para pelaku terorisme kini banyak menggunakan internet dan masuk secara sistematis. Hampir 80 persen pengguna internet di Indonesia adalah pemilik akun media sosial. 60 persen dari pengguna internet itu adalah anak-anak muda. Sehingga untuk mengatasi hal ini pihak BNPT akan berkoordinasi dengan Kominfo. 

 

"Ideologi terorisme kini menyasar anak-anak. Contohnya pasangan suami istri lahir 1996 melakukan bom bunuh diri depan Gereja Katedral, Makassar. Seorang wanita usia 26 tahun menyusup masuk dan melakukan penyerangan di Mabes Polri," sebutnya. 

 

Diungkapkanya, para pelaku teror yang berhasil direkrut ini adalah alam pikirannya yang dipengaruhi. Sementara kemampuannya tidak mumpuni. Kini pelaku teror baik di indonesia maupun dunia banyak pelaku tunggal. "Mereka cukup mengkonsumsi informasi di dunia maya. Akibatnya sesat, sebab mereka asal sejalan dengan kelompok yang menyebarkan informasi sesat itu," tandasnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top