The Meru Eco Tourism Week 4th Edition, Langkah Nyata Menuju Bali Destinasi Regenerative Tourism Global

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana didampingi para stakeholder pariwisata dan lingkungan saat membuka The Meru Eco Tourism Week 4th Edition.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana didampingi para stakeholder pariwisata dan lingkungan saat membuka The Meru Eco Tourism Week 4th Edition.

Kehadiran Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap transformasi ini. Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat posisi Bali sebagai pemimpin destinasi regenerative tourism di tingkat global. Keberadaan acara yang berlokasi di dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Wellness Sanur ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan pemulihan alam dapat berjalan beriringan secara harmonis.

Dalam kesempatan tersebut, Rahmi Fajar Harini dan Suzy Hutomo, sepakat bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar opsi tambahan untuk gaya hidup, melainkan fondasi utama daya saing Bali di masa depan.

Senada dengan hal tersebut, General Manager The Meru Sanur, Ed Brea, menyatakan komitmennya menjadikan KEK Sanur sebagai contoh nyata ekosistem pariwisata terintegrasi. Fasilitas ini didesain untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi kesejahteraan komunitas lokal sekaligus menjaga warisan budaya.

Satu langkah paling progresif dalam forum ini adalah diumumkannya kerja sama strategis selama empat tahun (2026–2029) antara Eco Tourism Bali dan ACT! Project. Sebagai informasi, ACT! Project (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) merupakan konsorsium yang didukung penuh oleh Uni Eropa melalui program SWITCH-Asia. Konsorsium ini beranggotakan organisasi global seperti Rainforest Alliance, SCOPI, dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP).

Kolaborasi internasional ini secara khusus akan berfokus pada penguatan praktik responsible sourcing dan rantai pasok komoditas utama di sektor hospitality Bali dan Yogyakarta. Komoditas harian hotel dan kafe seperti kopi, kakao, teh, dan minyak sawit kini wajib dipastikan berasal dari lahan yang bebas dari deforestasi. Rantai pasok ini juga harus memastikan tidak merusak habitat satwa liar yang terancam punah, sehingga konsumsi wisatawan tidak mengorbankan kelestarian alam.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top