Ia menuturkan, stres yang dimaksud merupakan kondisi psikologis negatif yang memengaruhi situasi mental seseorang akibat interaksi dengan berbagai faktor eksternal.
"Definisi stres adalah kondisi negatif yang berpengaruh terhadap situasi mental. Ada juga definisi yang menyebutkan bahwa stres merupakan gangguan psikologis yang dialami seseorang akibat interaksi dengan faktor-faktor eksternal," katanya.
Meski demikian, Pradhana menegaskan kondisi tersebut belum mengarah pada gangguan kejiwaan yang berat. Penelitiannya lebih menitikberatkan pada bagaimana pekerja merespons stres serta membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan mental (mental health awareness).
"Yang kami nilai adalah bagaimana respons para pekerja industri terhadap stres dan bagaimana mereka mampu menyikapi kondisi tersebut," ujarnya.
Dalam penelitiannya, Pradhana juga menemukan bahwa ekspektasi generasi Z dan milenial terhadap dunia kerja sering kali berbeda dengan realitas yang mereka hadapi. Perbedaan karakteristik antargenerasi tersebut menjadi dasar penting dalam merancang strategi penanganan stres.
Ia merekomendasikan agar pelaku industri pariwisata tidak lagi menerapkan program healing secara seragam kepada seluruh karyawan.
"Kita tidak bisa menggeneralisasi pola healing, misalnya hanya dengan makan bersama atau outbound. Yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi pola stres yang muncul berdasarkan karakteristik masing-masing generasi," jelasnya.
Menurutnya, generasi Z cenderung menunjukkan gejala seperti micro resignation, sedangkan generasi milenial lebih banyak melakukan penyesuaian terhadap diri sendiri untuk mengurangi tingkat stres. Karena itu, pendekatan healing perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap generasi agar lebih efektif.










