Tantangan Pemimpin Perempuan di Era Kartini Modern

IMG-20260430-WA0003
Dr. Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd.,M.Pd.,CH.,C.Med.

RADEN Ajeng Kartini merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Ia lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan, karena pada zamannya perempuan memiliki akses yang sangat terbatas untuk sekolah dan berkembang.

Pemikiran dan perjuangannya banyak dituangkan dalam surat-surat yang kemudian dibukukan menjadi karya terkenal berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. karena jasanya, tanggal kelahirannya, 21 April, diperingati setiap tahun di Indonesia sebagai Hari Kartini.

Peran Raden Ajeng Kartini sangat besar dalam sejarah Indonesia, terutama dalam memperjuangkan hak perempuan. Diantaranya: 1. Pelopor emansipasi Perempuan Kartini memperjuangkan kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki, khususnya dalam Pendidikan
dan kebebasan berpikir.

2. Mendorong pendidikan bagi Perempuan ia membuka jalan agar perempuan Indonesia bisa bersekolah dan tidak hanya dibatasi pada urusan rumah tangga.

3.Penulis dan pemikir melalui surat-suratnya yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menyampaikan gagasan tentang kemajuan perempuan, pendidikan, dan keadilan sosial.

4. Inspirasi perubahan sosial Pemikirannya menginspirasi gerakan perempuan dan perubahan pola pikir masyarakat Indonesia terhadap peran perempuan, dan, 5. Simbol perjuangan perempuan Indonesia Kartini menjadi simbol penting bahwa perempuan memiliki hak, potensi, dan peran besar dalam pembangunan bangsa.

Perjuangan Raden Ajeng Kartini sangat menginspirasi bagi para Perempuan Indonesia. Perjuangan Kartini saat ini dilanjutkan oleh para Perempuan Indonesia di berbagai sektor.

Berkat perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor yang memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan, perempuan Indonesia mulai mendapatkan kesempatan yang lebih luas.

Dari situlah, perempuan bisa berkembang dan akhirnya memiliki peluang menjadi pemimpin di berbagai bidang. Bidang Legislatif, bidang pemerintahan (menteri, kepala daerah), bidang pendidikan (kepala sekolah, rektor), Perusahaan (manajer, direktur, CEO) maupun Organisasi sosial dan Masyarakat.

BACA JUGA:  BKKBN Bali-Pemkab Jembrana Perkuat Sinergi Program Bangga Kencana

Berbagai peluang tersebut dimanfaatkan oleh Perempuan untuk selalu berupaya bekerja dan memberikan yang terbaik serta profesional. Walaupun banyak kesempatan bagi Perempuan dan sudah banyak menduduki jabatan strategis tapi sampai saat ini jumlah persentase pemimpin Perempuan masih lebih sedikit dibandingkan kaum pria.

Di era Kartini modern semangat yang terinspirasi dari R.A. Kartini tapi hidup dalam dunia digital dan global. Tantangan pemimpin perempuan bukan lagi soal boleh atau tidak berpendidikan, melainkan bagaimana bertahan dan unggul di sistem yang masih belum sepenuhnya setara.

Tantangan pemimpin Perempuan bisa beragam sebagai berikut.

1. Bisa lebih halus tapi tetap kuat. Kalau dulu diskriminasi terlihat jelas, sekarang sering muncul dalam bentuk yang lebih halus misalnya dianggap kurang cocok untuk posisi strategis, diragukan dalam pengambilan keputusan, atau tidak dilibatkan dalam lingkaran informal kekuasaan.

2. Tekanan untuk sempurna di semua peran. Pemimpin perempuan modern sering diharapkan sukses di karier dan tetap memenuhi standar sosial sebagai ibu/istri ideal. Ekspektasi ini jarang dibebankan sama beratnya ke laki-laki.

3. Tantangan di ruang digita. Media sosial membuka peluang, tapi juga membawa risiko: komentar negatif, serangan personal, hingga meragukan kredibilitas hanya karena gender.

4. Representasi yang masih belum merata, di banyak sektor (politik, teknologi, bisnis besar), jumlah pemimpin perempuan masih perlu ditingkatkan. Ini membuat suara perempuan belum sepenuhnya terwakili dalam pengambilan kebijakan.

5. Glass ceiling dan glass cliff (Glass ceiling: batas tak terlihat yang menghambat naik ke posisi puncak). (Glass cliff: perempuan justru diberi posisi tinggi saat kondisi organisasi sedang krisis resiko gagal lebih besar).

6. Kesenjangan akses dan jaringan, meski pendidikan makin terbuka, akses ke mentor, investor, atau jaringan elite masih sering lebih mudah bagi laki-laki.

BACA JUGA:  Tingkatkan Minat Literasi Warga Melalui Program Pojok Baca di Kantor Desa Bona

7. Harus menavigasi gaya kepemimpinan. Pemimpin perempuan sering harus menyeimbangkan antara tegas dan empatik agar tidak dilabeli negative, sebuah tekanan tambahan yang tidak selalu dialami laki-laki.

Namun yang berubah di era Kartini modern, perempuan punya lebih banyak akses pendidikan dan teknologi. Solidaritas dan komunitas perempuan semakin kuat. Banyak role model baru di berbagai bidang.

Kesadaran publik soal kesetaraan gender meningkat. Ini menunjukkan bahwa tantangan pemimpin perempuan memang ada tetapi alat untuk menghadapai tantangan tersebut jauh lebih kuat dibandingan di masa lalu.

Jadi pemimpin Perempuan harus memiliki semangat yang kuat dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dengan berbagai kesempatan dan akses yang dimiliki.

Penulis: Dr. Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd.,M.Pd.,CH.,C.Med. (Tokoh perempuan Bali dan Kepala SMKS Teknologi Nasional Denpasar).

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top