Sekolah Perempuan Kartini Aktifkan Pos Pengaduan

Pos pengaduan di Sekolah Perempuan Kartini menjadi alternatif tempat mengadukan permasalahan kekerasan di tingkat akar rumput

 Save as PDF
(Last Updated On: )

TIM LSM Bali Sruti Sri Sulandari, S.Sos., MAP., memaparkan keberadaan Pos Pengaduan, Sekolah Perempuan Kartini.

 

DENPASAR – fajarbali.com | Warga Desa Dauh Puri Kangin (DPKN) yang mengalami atau melihat terjadinya segala bentuk kekerasan pada perempuan dan anak, kini bisa mengadu ke Pos Pengaduan Sekolah Perempuan Kartini. Sekretariatnya di Kantor Perbekel DPKN.

Demikian diungkapkan nara sumber dari LSM Bali Sruti, Sri Sulandari, S. Sos., MAP., saat menyosialisasikan pos pengaduan, di Balai Banjar Suci, DPKN, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar, Minggu (21/5/2023).

Pos pengaduan di Sekolah Perempuan Kartini, kata Sri, menjadi alternatif tempat mengadukan permasalahan kekerasan di tingkat akar rumput. Setelah menerima aduan, korban akan diarahkan langkah selanjutnya.

Tidak melulu soal kekerasan, anggota Sekolah Perempuan Kartini juga siap membantu warga DPKN dalam mengurus dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, Akte Pernikahan, Akte Kelahiran dan sebagainya.

“Jadi harapan kami silakan manfaatkan layanan ini. Jika bapak/ibu melihat ada tindak kekerasan di lingkungan sekitarnya, jangan diam. Boleh diadukan di pos,” kata Sri.

Sekolah Perempuan, lanjut dosen Fishum UNR ini, menjadi momentum kebangkitan kaum Kartini untuk berani bicara dan berbuat.

Lebih lanjut, dia berharap, dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Desa, kaum perempuan lebih dilibatkan secara nyata. Tidak hanya menjadi pelengkap seperti yang sudah berlalu.

Sekolah Perempuan, masih menurut Sri, beranggotakan perempuan akar rumput, mulai dari perempuan muda, lansia hingga disabilitas. Sehingga menjadi wadah belajar mengasah potensi perempuan di desa.

Ketua Sekolah Perempuan Kartini, Luh Gede Martini, menambahkan, sejak menerima SK dari Perbekel DPKN Ni Ketut Anggreni Wati, beberapa waktu lalu, Pos Pengaduan Sekolah Perempuan Kartini belum menerima laporan.

“Kalau tindak kekerasan saya yakin pasti ada, cuma masih belum mau mengungkapkan. Namanya juga wadah baru, masih perlu waktu,” kata Luh De.

Lewat wadah yang dipimpinnya, Luh De bertekad konsisten dalam pemberdayaan perempuan di wilayahnya. Peningkatan kesejahteraan perempuan juga menjadi cita-citanya. (Gde)

 Save as PDF

Next Post

Tidak Ada Rekrutmen, Satu Penyuluh Pertanian Tangani Sampai 17 Subak

Sen Mei 22 , 2023
"Ya, kalau dirata-ratakan, setiap penyuluh mengawal 17 subak, namun kerja kami efektif," jelas Sumpahyani. Dikatakan, untuk idealnya, satu penyuluh menangani satu desa, sehingga kinerja penyuluh bisa tepat sasaran. 
IMG_20221026_131630

Berita Lainnya