Tema Atma Kerthi Bikin Peed Aya Makin “Mataksu” 

IMG-20260614-WA0028
Peed Aya sebagai pembuka PKB 48 tahun 2026, yang berlangsung di Kawasan Monumen Bajra Sandi, /Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Denpasar, Sabtu (13/6).

DENPASAR-fajarbali.com | Sesuai prediksi awal, pawai budaya atau Peed Aya pada pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 lebih berbeda dari PKB episode sebelumnya. 

Hal ini disebabkan dari rangkaian evaluasi oleh kurator dan yang paling berpengaruh adalah tema. Diketahui PKB 48 tahun ini mengusung “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha – Memuliakan Jiwa Paripurna”.

Kurator PKB I Made Bandem, berpendapat, tema Atma Kerthi memberikan ruang tafsir yang sangat luas bagi para seniman untuk menggali nilai-nilai spiritual, filosofi kehidupan, hingga kisah-kisah klasik yang relevan dengan perjalanan penyucian jiwa manusia.

"Saya terkesan dengan kualitas garapan seluruh duta kabupaten/kota yang dinilainya mampu menerjemahkan tema tahun ini secara kreatif, mendalam, dan penuh makna spiritual," ungkap Bandem, usai menyaksikan Peed Aya di Kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar, Sabtu (13/6).

Bahkan, semua tampak sangat mengejutkan. Tema ini sangat mendukung karena lebih bersifat spiritual daripada material. Para seniman mengambil berbagai sumber cerita dan melakukan penafsiran yang sangat luas sehingga melahirkan refleksi artistik yang mendalam.

Hampir seluruh peserta, lanjut Bandem, mampu menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan-pesan filosofis yang kuat. Berbagai fragmen yang ditampilkan mengangkat perjalanan spiritual manusia, penghormatan kepada leluhur, keseimbangan alam semesta, hingga nilai-nilai bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ia juga menyoroti kemunculan sejumlah karya ogoh-ogoh yang menjadi bagian integral dari narasi pawai budaya tahun ini. Kehadiran ogoh-ogoh dinilai memberikan warna baru yang memperkaya sajian artistik sekaligus memperkuat pesan yang ingin disampaikan masing-masing duta daerah.

“Kehadiran ogoh-ogoh sangat memukau. Ini menjadi elemen baru yang memperkaya narasi dan memberi daya tarik visual yang luar biasa bagi penonton,” kata dia. 

BACA JUGA:  Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Ajak Pelajar Lestarikan Bahasa dan Sastra Bali

Pawai diawali dengan penampilan kolosal “Mahamredangga Kalpa”, hasil kolaborasi Komunitas Seni Usadhi Langu bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Karya tersebut memadukan komposisi musikal gamelan Bali purwa dengan koreografi Siwa Nataraja sebagai simbol keseimbangan kosmis antara manusia dan alam semesta.

Selanjutnya, masing-masing duta kabupaten/kota menampilkan karya terbaik yang berakar pada tradisi dan identitas budaya daerah. 

Lebih lanjut, kata Bandem, Peed Aya tahun ini membuktikan bahwa kebudayaan Bali tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan yang mengajak masyarakat melakukan refleksi spiritual tentang Tri Hita Karana. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top