Bwah Loka, dunia tempat manusia hidup, dihadirkan melalui patung-patung kecil berbentuk manusia, benda-benda yang dulu digunakan sehari-hari, hingga telepon genggam yang menjadi simbol ketergantungan manusia modern.
Namun patung manusia dalam instalasi ini tampak lemah, kecil, dan terjepit di antara tumpukan mesin dan sampah. Seolah menunjukkan bahwa manusia kini tak lagi mampu hidup di dunia tengah. Manusia menjadi korban dari produk ciptaannya sendiri, menjadi korban dari peradabannya sendiri.
Bhur Loka, atau dunia bawah, sering digambarkan sebagai ruang yang dihuni bhutakala, energi-energi destruktif, kekuatan yang liar dan tak terkendali.
Dalam karya ini, dunia bawah direpresentasikan oleh material industri yang penuh karat, kabel yang menjuntai, bagian mesin yang rusak dan bengkok, serta sampah elektronik yang terbengkalai.
Tekstur kasar, warna-warna gelap, dan bentuk-bentuk tak beraturan menghadirkan kesan dunia yang tidak terurus, penuh kekacauan dan ancaman. Ini adalah wajah Bhur Loka yang menjadi manifestasi nyata dari sisi gelap peradaban modern.
“Saya ingin agar masyarakat Bali tetap menjaga filosofi Tri Hita Karana. Melalui karya ini, saya ingin menyadarkan masyarakat Bali untuk mawas diri, berbenah dan mari kita saling merenung. Kita sebagai orang Bali jangan mau diperbudak oleh dollar dan teknologi,” tegasnya.
Dikatakan, bahwa bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan Si Aboetdtor ini yaitu fiberglass yang dibentuk seperti cover (baju). Kemudian, diberi warna dan ditempelkan sejumlah aksesoris yang berasal dari barang-barang bekas. Proses pembuatan Si Aboetdtor ini memerlukan waktu sekitar satu bulan.










