Serapan Produk Hortikultura Terkendala Kontinuitas hingga Keterbatasan Lahan, Distan Denpasar Mulai Petakan Produksi

1000542231
I Putu Wisnu Wijaya Kusuma.

Selain persoalan penyerapan hasil panen, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi tantangan dalam pengembangan pertanian hortikultura di Denpasar. Minat generasi muda untuk menjadi petani dinilai masih rendah. Akibatnya, sebagian petani mengandalkan tenaga kerja dari luar daerah.

Ketergantungan tersebut menimbulkan persoalan ketika memasuki musim hari raya. Sebab, pekerja yang berasal dari luar daerah umumnya pulang ke kampung halaman sehingga petani kesulitan mencari tenaga kerja pengganti.

Kendala lainnya adalah keterbatasan luas lahan garapan. Wijaya Kesuma menyebutkan, rata-rata petani hanya menggarap lahan sekitar 20–30 are. Luas lahan tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk meningkatkan skala produksi sekaligus menjaga kesejahteraan petani.

Karena itu, Pemkot Denpasar berupaya menekan biaya operasional pertanian agar petani tetap mampu menjalankan usaha taninya. Dukungan diberikan melalui subsidi solar, di samping bantuan benih dan pupuk dari pemerintah pusat serta pendampingan melalui penyuluhan pertanian.

"Harapan kita, biaya mereka bisa ditekan serendah mungkin sehingga hasilnya bisa memberikan keuntungan bagi petani," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga komoditas pertanian guna mendukung pengendalian inflasi. Komoditas yang harganya cenderung berfluktuasi, seperti bawang dan cabai, menjadi perhatian dalam upaya menjaga ketersediaan pasokan.

Ia berharap, pertemuan antara petani dan pelaku usaha dapat menjadi awal pembenahan tata kelola produksi hortikultura. Kebutuhan pasar yang terdata diharapkan menjadi acuan bagi petani dalam menentukan komoditas, waktu tanam, dan jadwal panen.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top