Rusia menjadi pilihan. Lalu pada 2007 ia mulai kursus bahasa Rusia selama tiga bulan. Purnami hanya modal nekat di tengah keterbatasan, ia tidak punya motor, kamus dan handphone. "Selama tiga bulan saya jalan kaki dari Sanur ke Batubulan," kenangnya.
Namun, setelah selesai kursus, Purnami mengaku belum fasih berbahasa Rusia. Ia hanya hafal alphabet-nya saja. Rasa putus asa sempat menghinggapi hingga tercetus ide bekerja di hotel atau restoran yang ada tamu Rusia-nya.
Beruntung baginya bisa diterima di salah satu restoran di Sanur. Pelanggannya sebagian besar tamu Rusia. Demi mengejar impiannya, Purnami rela tidak digaji. Syaratnya, ia hanya bekerja saat ada tamu Rusia yang datang.
"Melalui praktik (komunikasi) langsung dengan bule Rusia, saya berhasil menguasai 75 persen bahasanya dalam satu bulan," ujar wanita yang juga aktif berbahasa Inggris tersebut.
Sejak saat itulah, Purnami berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari kemahirannya berbahasa Rusia hingga berhasil membeli hunian di Sanur. Tentu tak lepas dari dukungan suami.
Purnami mulai bekerja di travel agent sebagai guide. Bahkan tak jarang, ia merangkap supir. Para tamu pun relatif puas dengan pelayanannya yang berbasis kekeluargaan. "Banyak tamu yang nawarin saya ke Rusia, tapi saya tolak karena takut ketinggian," ucapnya tertawa.
Melihat besarnya potensi wisatawan asal Rusia yang datang ke Bali, Purnami bertekad menjadi seorang advokat khusus menangani warga negara Rusia yang tersandung persoalan hukum di Bali dan Indonesia pada umumnya.










