Sarjana Sastra Jawa Kuno Masih Dibutuhkan Masyarakat

“Masyarakat menggunakan sastra untuk kehidupan di masyarakat. Gunakan itu mulai dari di keluarga. Apalagi jika nanti bisa mengajar, bisa jadi guru, maka ingat gunakan kearifan Jawa Kuno untuk membangun peradaban masyarakat yang luhur”.

(Last Updated On: )
Tiga Sarjana Jawa Kuno FIB Unud diapit para dosen usai yudisium prodi ke-159, Selasa (16/4).

DENPASAR-fajarbali.com | Program Studi (Prodi) Sastra Jawa Kuno Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) melepas tiga orang sarjana sastra Jawa Kuno dalam kegiatan yudisium ke-159, bertempat di Kampus FIB Unud, Denpasar, Selasa (16/4). Dari tiga lulusan yang dilepas, satu di antaranya lulus dengan capaian nyaris sempurna, yakni IPK 3,98.

Koordinator Prodi Sastra Jawa Kuno Unud, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., mengaku bangga dan mengucapkan selamat atas capaian ketiga anak didiknya. Sebagai program studi yang paling sepi peminat di Unud dan merupakan satu-satunya program studi yang spesifik menekuni sastra Jawa Kuno, capaian pada yudisium periode ini dinilai sangat menggembirakan dan sarat optimisme, karena IPK ketiganya melampaui standar prodi;3,5.

Pada momentum itu, guru besar asal Tabanan ini mengingatkan agar ilmu-ilmu yang didapat di Prodi Sastra Jawa Kuno dapat diterapkan di masyarakat. Gelar sarjana yang disandang ketiganya akan berjalan lurus dengan tanggung jawab.

“Mereka harus mampu membantu masyarakat, memecahkan persoalan di masyarakat melalui ilmu sastra Jawa Kuno, khususnya di bidang pernaskahan, sastra, termasuk nilai-nilai etik yang berbasis sastra Jawa Kuno. Saya juga memotivasi agar mereka yang telah menjadi alumni ini dapat terus meningkatkan kualitas dan kapasitas keilmuannya,” kata dia.

Hal yang sama disampaikan dosen senior Prodi Sastra Jawa Kuno, Dr. I Ketut Jirnaya, M.S. Dosen yang akan purnabakti dalam sebulan ke depan ini mengingatkan pentingnya keberadaan bahasa dan sastra Jawa Kuno di masyarakat. Oleh karena itu, ia mengingatkan untuk meningkatkan kualitas akademik para alumni Prodi Sastra Jawa Kuno.

“Kalau sudah di masyarakat, sedikit-sedikit alumni sastra Jawa Kuno pasti akan ditanya soal bahasa dan sastra Jawa Kuno, karena dianggap tahu. Misalnya dimintai orang nama bayi yang bagus dalam bahasa Jawa Kuno. Maka, di samping sastra yang sudah dikuasai, yang paling penting adalah penguasaan bahasa. Akan banyak dapat pertanyaan nanti. Jangan berhenti belajar. Kalau penguasaan bahasa sudah bagus, itu pasti akan dibutuhkan,” katanya.

Hal senada dinyatakan dosen lainnya, Drs. Komang Paramartha, M.S. Ia mengingatkan posisi penting Jawa Kuno adalah di wilayah etika, moral, dan nilai-nilai kearifannya. Maka daripada itu, pihaknya sangat yakin apa yang didapat ketiganya selama berproses di Prodi Sastra Jawa Kuno akan sangat berguna di masyarakat.

“Masyarakat menggunakan sastra untuk kehidupan di masyarakat. Gunakan itu mulai dari di keluarga. Apalagi jika nanti bisa mengajar, bisa jadi guru, maka ingat gunakan kearifan Jawa Kuno untuk membangun peradaban masyarakat yang luhur,” katanya.

Adapun nama-nama lulusan kali ini, yakni; Riana Dewi, S.S., dengan IPK 3,85, Dicky Pramudia Oktarafli, S.S., IPK 3,81 dan Putu Diah Savitri, S.S. dengan IPK nyaris sempurna 3,98.

Diah Savitri, merupakan sarjana perempuan dari Susut, Bangli. Gelar sarjana sastra berhasil ia raih dengan skripsi berjudul “Representasi Ekologi dalam Kakawin Sangutangis”.

Selain IPK yang nyaris sempurna, Diah pun berhasil membukukan masa studi tepat waktu, yakni selama 3 tahun 7 bulan serta menjadi yang terdepan di angkatannya. Oleh karena itu, ia pun berhak membawa pulang predikat cumlaude (dengan pujian) serta penghargaan dari Prodi Sastra Jawa Kuno.

Next Post

Sarjana Sastra Jawa Kuno Masih Dibutuhkan Masyarakat

Sel Apr 16 , 2024
“Masyarakat menggunakan sastra untuk kehidupan di masyarakat. Gunakan itu mulai dari di keluarga. Apalagi jika nanti bisa mengajar, bisa jadi guru, maka ingat gunakan kearifan Jawa Kuno untuk membangun peradaban masyarakat yang luhur".
999281d6-ac30-48bb-91e3-b41b826f2cb7

Berita Lainnya