"Namun Astiti masih bisa berjuang hingga berhasil finish di posisi ketiga. Ini sudah syukur sekali," ungkapnya.
Hal itu dibenarkan oleh Astiti. Ia menceritakan bagaimana kondisi tubuhnya menderita panas, pusing disertai nyeri khas datang bulan. Hampir mustahil baginya berkompetisi dalam kondisi seperti itu.
"Pak Adi (Palgunadi-red), terus memberikan saya obat-obatan. Saya lawanin kondisi badan saya. Dan, Astungkara dapat juga medali," kenang Astiti.
Adi Palgunadi kembali menambahkan, persaingan atlet di POMNAS semakin ketat. Untuk itu, pihaknya pun di internal juga lebih selektif memilih atlet agar meraih hasil maksimal.
Tahun ini, ajang dua tahunan tersebut melibatkan 3.065 atlet dan 1.091 ofisial dari 36 provinsi di Indonesia yang akan bertanding dalam 17 cabor meliputi: atletik, bola basket, bola voli indoor, bola voli pasir, bulu tangkis, catur, karate, panahan, panjat tebing, pencak silat, pentangue, renang, sepak takraw, taekwondo, tarung derajat, tenis lapangan, dan wushu.
Sementara itu, Prof. Suarta, selaku Rektor UPMI, tetap mengapresiasi capaian para atletnya. Setiap mahasiswanya mengikuti kompetisi di berbagai ajang, ia yakin pasti ada saja yang membawa medali. "Sebab medali dan piala sudah menjadi tradisi kami," jelas Prof. Suarta.
Meski demikian, ia meminta pembinaan terus dilakukan mulai dari seleksi mahasiswa baru agar UPMI yang dikenal sebagai gudang atlet tetap bisa dipertahankan. "Dari mahasiswa prodi bahasa juga ada yang dapat medali bidang olahraga. Ini menunjukkan bahwa potensi olahraga ada di semua prodi," imbuh Prof. Suarta.










