Ida Ayu Astari Prada selaku Brand and Communications Director Nuanu Creative City, menekankan bahwa acara ini lahir dari rasa hormat mendalam terhadap tanah Bali. Menurutnya, Bali bukan sekadar destinasi yang pasif dalam menerima tamu, melainkan sebuah ruang dengan budaya yang "bernapas" dan harus terus dijalankan secara relevan. “Strategi ini menempatkan tradisi Bali sebagai inti atau core, namun tetap membuka lebar pintu bagi keberagaman Indonesia untuk hadir dan saling terhubung dalam satu pengalaman yang utuh,” ungkapnya.
Sebagai wujud nyata dari komitmen keberlanjutan, aspek pelestarian juga menjadi pilar utama melalui peran Nuanu Social Fund. Pada tanggal 26 hingga 28 Maret, suasana akan semakin semarak dengan kompetisi budaya yang melibatkan anak muda. Para pelajar dan komunitas seni dari berbagai pelosok Bali akan berkompetisi dalam seni tradisional seperti Megenjekan, Mejanggeran, hingga Tari Baris dan Tari Condong. Inisiatif ini memastikan bahwa warisan leluhur tidak hanya berhenti di buku sejarah, tetapi terus hidup di tangan generasi z dan alfa.
Melibatkan generasi muda dalam panggung profesional di tengah musim liburan adalah langkah strategis untuk memupuk kebanggaan atas identitas lokal sejak dini. Program kompetisi ini memberikan ruang bagi mereka untuk menunjukkan disiplin dan kreativitas, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni Bali kepada penonton dari berbagai latar belakang daerah. Dengan demikian, Nuanu berhasil memposisikan dirinya tidak hanya sebagai penyedia sarana rekreasi, tetapi juga sebagai ekosistem pendukung komunitas seni lokal.










