Pelaksanaan di lapangan dikoordinasikan secara erat bersama Jero Bendesa Adat, pengempon, pengurus Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat. Pelibatan masyarakat adat yang telah menjaga hutan Batukaru secara turun-temurun menjadi kunci utama, mulai dari penyediaan tenaga kerja, pemeliharaan rutin, hingga pengambilan keputusan operasional program.
Keterlibatan Bali Tourism Board dalam inisiatif ini menegaskan kesadaran pelaku industri akan ketergantungan sektor pariwisata terhadap kelestarian alam hulu. Air yang dimanfaatkan oleh hotel, restoran, dan vila di seluruh Bali pada dasarnya berasal dari kawasan tangkapan air dataran tinggi seperti Batukaru.
“Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru. Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi. Ini bukan sekadar kegiatan amal dari sektor pariwisata ini merupakan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita," ujar Chairman of the Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana.
Inisiatif kolaboratif antara pemerintah, masyarakat adat, dan sektor swasta ini diharapkan dapat menjadi model percontohan (pilot project) yang dapat direplikasi di kawasan tangkapan air lainnya di Bali. Setelah periode pemeliharaan satu tahun selesai, data pertumbuhan serta tingkat keberhasilan hidup pohon akan dipublikasikan secara transparan pada September 2027. (M-001)










