Pura Luhur Batukaru Direforestasi, Sinergi Lintas Sektor Jaga Ekosistem Hulu dan Budaya Bali

2026-08-26-at-18.28.06
Pelaksanaan Agenda Penanaman Pohon di Pura Batukaru bersama Nuanu Social Fund, Dinas Kehutanan Provinsi Bali, Bali Tourism Board, Bersama Pihak Desa. (Nuanu Creative City)

TABANAN-fajarbali.com | Upaya pemulihan ekosistem hutan dataran tinggi Bali memasuki babak baru. Pada 26 Agustus 2026, penanaman 100 pohon resmi dimulai di kawasan hutan seluas 1.000 meter persegi di sekitar Pura Luhur Batukaru. Aksi nyata ini melanjutkan tahap persiapan lahan yang telah berlangsung sejak pertengahan Agustus, sekaligus menandai langkah penting dalam rehabilitasi kawasan hutan prioritas di Pulau Dewata.

Program reforestasi ini diinisiasi oleh Dinas Kehutanan Provinsi Bali bekerja sama dengan Nuanu Social Fund serta Bali Tourism Board (BTB) sebagai perwakilan sektor pariwisata. Sebanyak 100 bibit pohon yang terdiri atas 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka (Magnolia champaca) ditanam secara bertahap. Penanaman ini ditargetkan rampung pada 2 September mendatang.

Pemilihan jenis vegetasi tersebut bukan tanpa alasan. Selain disesuaikan dengan karakteristik tanah dan iklim Gunung Batukaru, pohon beringin memiliki kedudukan budaya yang mendalam dalam lanskap spiritual Pura di Bali. Dengan demikian, program ini tidak hanya memulihkan fungsi vegetasi alam, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal setempat.

Dinas Kehutanan Provinsi Bali menetapkan lereng Gunung Batukaru sebagai kawasan prioritas karena peran ekologisnya yang vital sebagai daerah tangkapan air hulu. Kawasan ini menopang pasokan air bagi 20 sistem irigasi subak di kawasan Catur Angga Batukaru serta keberlangsungan hidup warga di tujuh desa sekitar, yakni Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede.

Penurunan tutupan vegetasi di kawasan dataran tinggi berisiko mengikis kemampuan tanah dalam menyimpan air dan memicu erosi, yang dampaknya terasa hingga ke area pertanian berundak di hilir. Oleh karena itu, pendekatan reforestasi berfokus pada pemulihan fungsi ekologis secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar angka kuantitas penanaman.

BACA JUGA:  Sinergi Literasi dan Keberlanjutan Warnai Bootcamp Kebun Literasi di Bali

“Reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik. Karena itu, arah, target, dan jangka waktu pemulihan harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis masing-masing kawasan, sehingga upaya yang dilakukan benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” jelas Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si.

Komitmen keberlanjutan program ini diperkuat oleh skema pemeliharaan dan pemantauan selama 12 bulan setelah penanaman yang didukung penuh oleh Nuanu Social Fund. Dukungan tersebut mencakup penyediaan bibit, penanaman, penyiraman berkala, perlindungan area tanam, hingga penyulaman atau penggantian bibit yang mati guna memastikan tingkat kelangsungan hidup pohon yang maksimal.

“Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada pada saat setelah penanaman. Karena itu, kami mendanai proses selama satu tahun dan akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah 12 bulan, apapun hasilnya. Peran kami adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin oleh Dinas Kehutanan Provinsi Bali, sekaligus menghormati pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang telah menjaga lanskap ini jauh sebelum kami hadir di sini,” ungkap Head of Nuanu Social Fund, Auditya Sari.

Pelaksanaan di lapangan dikoordinasikan secara erat bersama Jero Bendesa Adat, pengempon, pengurus Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat. Pelibatan masyarakat adat yang telah menjaga hutan Batukaru secara turun-temurun menjadi kunci utama, mulai dari penyediaan tenaga kerja, pemeliharaan rutin, hingga pengambilan keputusan operasional program.

Keterlibatan Bali Tourism Board dalam inisiatif ini menegaskan kesadaran pelaku industri akan ketergantungan sektor pariwisata terhadap kelestarian alam hulu. Air yang dimanfaatkan oleh hotel, restoran, dan vila di seluruh Bali pada dasarnya berasal dari kawasan tangkapan air dataran tinggi seperti Batukaru.

BACA JUGA:  Memperkuat Resiliensi Bali, BPBD Gelar Bimbingan Teknis Pemetaan Spasial Berbasis Geographic Information System

“Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru. Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi. Ini bukan sekadar kegiatan amal dari sektor pariwisata ini merupakan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita," ujar Chairman of the Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana.

Inisiatif kolaboratif antara pemerintah, masyarakat adat, dan sektor swasta ini diharapkan dapat menjadi model percontohan (pilot project) yang dapat direplikasi di kawasan tangkapan air lainnya di Bali. Setelah periode pemeliharaan satu tahun selesai, data pertumbuhan serta tingkat keberhasilan hidup pohon akan dipublikasikan secara transparan pada September 2027. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top