Puluhan Babi Warga Mati, Distankan Bakal Semprotkan Biocroty

babi
Warga peternak babi yang menunjukkan kendang babinya yang mulai kosong akibat babi miliknya sudah mati

BULELENG-fajarbali.com | Sejak dua bulan, puluhan babi milik peternak rumahan yang ada di Desa Kuhum hingga Desa Ularan mati mendadak. Menurut informasi yang berhasil dikumpulkan, dari waktu dua bulan kurang lebih sebanyak 50 ekor babi milik warga mati secara mendadak. Tentunya dengan adanya peristiwa tersebut, membuat para peternak babi harus waswas terhadap babi peliharaan miliknya. Seperti yang diungkapkan Ida Kade Arnaka salah satu peternak babi mengaku dirinya was-was dengan adanya babi mati secara mendadak yang ada di lingkungannya.

“Kalau kejadian babi mati sudah berlangsung sejak dua bulan yang lalu hingga sekarang. Banyak babi warga bertahan hanya dua hingga tiga hari sejak tidak mau makan kemudian mati,”jelas Arnaka saat dikonfirmasi, Selasa (7/7/2026) siang.

Menurut jumlah babi yang mati secara mendadak kurang lebih sudah mencapai 50 ekor babi milik peternak rumahan dengan kisaran babi mati sudah mencapai harga dua juta lebih kalau dijual dalam harga normal.

“Banyaknya babi yang mati sebagian besar memiliki berat 70 hingga 100 kilogeram dengan harga perekornya kurang lebih mencapai dua juta hingga tiga juta rupiah,”lanjutnya.

Dilain sisi menurut Perbekel Desa Ularan I Gusti Nyoman Suryawan membenarkan terkait puluhan babi peliharaan warganya yang mengalami mati secara mendadak.

“Kalau saya dengar babi warga yang mati sudah banyak namun sejauh ini kami belum menerima laporan secara pasti berapa secara keseluruhan babi warga kami yang mati secara mendadak. Hanya kami mendengar babi milik peternak Jro Putu Darmawan sebanyak 10 ekor mati namun yang bersangkutan tidak ngelapor ke desa,”ucapnya.

Bahkan dirinya menghimbau kepada warga masyarakat agar terus melakukan koordinasi ke desa sehingga permasalahan yang terjadi seperti babi mati yang terjadi nantinya akan melakukan koordinasi ke dinas terkait.

BACA JUGA:  Kasus LPD Desa Anturan, Kejaksaan Lakukan Pemeriksaan Tambahan

“Kami sangat berharap kepada warga masyarakat bila terjadi permasalahan nantinya bisa melakukan upaya koordinasi ke desa sehingga pihak desa segera melakukan koordinasi ke dinas terkat untuk melakukan antisifasi baik pencegahan atau yang lainnya,”lanjutnya.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng Gede Melandrat saat dikonfirmasi terpisah pihaknya mengakui baru menerima laporan dari timnya yang ada dilapangan. Bahkan dengan adanya peristiwa tersebut, Melandrat mengakui akan segera menurunkan tim hingga dokter hewan guna melakukan pengecekan apakan penyebab kematin babi warga merupakan karena kasus African Swine Fever (ASF) atau bukan.

“Ia kami juga baru menerima laporan dari tim di lapangan bahwa ada kejadian banyak hewan babi milik warga yang mati mendadak. Rencananya hari ini atau besok kami akan turunkan tim hingga dokter hewan guna melakukan pengecekan apakah hal itu akibat kasus African Swine Fever (ASF) atau bukan,”akunya.

Selain menurunkan tim untuk melakukan pengecakan dirinya juga akan segera melakukan penyemprotan Biocroty kesemua kendang babi warga sehingga virus yang menyebabkan kematian babi warga tidak menyebar.

“Kita juga nantinya akan menurunkan tim guna melakukan penyemprotan Biocroty keseluruh kendang babi warga sehingga bakteris atau virus yang membuat mati babi warga tidak menyebar,”lanjutnya.

Akibat peristiwa tersebut, pihaknya kembali mengingatkan kepada para peternak babi karena tingkat penyebaran sangat tinggi, diharapkan kepada semua peternak babi agar tidak melakukan saling mengunjungi kendang babi milik warga yang mengalami babi sakit atau mati mendadak.

“Saya sudah terus mengingatkan warga agar jangan saling mengunjungi. Karena keluar masuk kendang atau aktivitas keluar masuk kendang sangat berpotensi faktor menyebarnya virus pembunuh babi tersebut,”tuturnya mengingatkan peternak.

BACA JUGA:  Gelar Pangan Murah Disambut Antusias Masyarakat

Bahkan dirinya mengharapkan kepada para peternak babi agar menerapkan system kendang tertutup dengan mengurangi kunjungan orang lain masuk ke kendang. Karena hal itu dinilai mempunya faktor paling besar dalam penyebaran virus.

“Kami harapkan kepada para peternak agar membudidayakan peternakan yang tertutup. Karena banyaknya orang keluar masuk kendang hal itu berpotensi penyebaran virus yang terjadi,”tutupnya. @gus

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top