Dalam konteks meningkatnya tantangan kesehatan mental di kalangan generasi muda, keberadaan konselor sebaya menjadi bentuk nyata kepedulian yang membumi: sederhana, tetapi bisa menyelamatkan nyawa.
Di balik setiap percakapan ringan di kantin sekolah, setiap telinga yang rela mendengar tanpa menginterupsi, terselip pesan besar bahwa hidup masih layak dijalani. Konselor sebaya adalah sahabat yang hadir bukan untuk memberi semua jawaban, melainkan untuk mengingatkan bahwa masih ada jalan keluar, masih ada harapan, dan masih ada orang yang peduli.
Menyalakan Cahaya di Tengah Gelap
Bunuh diri bukan sekadar angka. Ia adalah cerita kehilangan, tentang orang-orang yang merasa dunia terlalu berat untuk ditanggung. Namun, di tengah kenyataan pahit ini, selalu ada jalan keluar: melalui pendampingan sahabat, keterlibatan keluarga, dukungan komunitas, dan penguatan spiritual.
Bali, dengan kearifan lokal dan tradisi spiritualnya, sesungguhnya memiliki bekal untuk merawat jiwa. Kini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendengarkan, kepedulian untuk saling merangkul, dan komitmen untuk tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian dalam sunyi.
Penulis : Ni Made Ari Listiani, SS, M.Hum/Perencana Ahli Madya-Ketua Tim Kerja Humas dan Informasi Publik Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bali










