Suasana kian muram setelah pandemi Covid-19. Sebelum 2020, kasus bunuh diri di Bali terbilang rendah. Namun setelah pandemi melanda, jumlahnya melonjak: 93 kasus di tahun 2020, 117 di 2021, 144 di 2022, dan 113 kasus pada 2023.
Lebih memilukan lagi, tingkat bunuh diri atau suicide rate di Bali tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia, dengan angka 3,07—jauh di atas rata-rata nasional.
Wajah-wajah di Balik Angka
Di balik barisan angka yang terlihat kaku, ada kisah-kisah manusia yang membuat dada sesak. Di Gianyar, seorang pelajar yang mestinya masih sibuk menulis mimpi, justru memilih mengakhiri hidup dengan terjun dari jembatan.
Di Denpasar, pasangan suami-istri ditemukan tak bernyawa dalam pelukan terakhir di kamar rumahnya—sebuah simbol cinta yang berakhir tragis.
Malam Natal di Bangli yang seharusnya penuh doa dan sukacita berubah menjadi duka, ketika seorang lansia memilih menutup perjalanan hidupnya dengan cara yang sunyi.
Sementara di jembatan Tukad Bangkung, dua saudara kandung melompat bersama, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab bagi keluarga yang ditinggalkan.
Mereka datang dari berbagai rentang usia: anak-anak yang baru belajar mengeja kehidupan, remaja yang tengah mencari jati diri, orang dewasa muda yang bergulat dengan tekanan ekonomi dan pekerjaan, hingga orang tua yang mungkin merasa semakin ditinggalkan. Cara mereka pun berbeda—ada yang memilih gantung diri, ada yang meneguk racun, ada pula yang melompat ke jurang.
Namun benang merahnya sama: sebuah rasa putus asa yang tak tertolong, dan luka mendalam yang kini harus dipikul oleh keluarga, sahabat, dan komunitas yang ditinggalkan.










