Pulau Cahaya yang Terluka: Alarm Kesehatan Mental dari Bali

IMG-20250916-WA0007
(foto ilustrasi:sharegendre)

SETIAP 10 September, dunia memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia—sebuah momentum untuk menyalakan harapan di tengah gelapnya perjuangan hidup yang kerap tak terlihat. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa di balik senyum banyak orang, ada jiwa-jiwa yang sedang berjuang melawan sepi, tekanan, dan rasa putus asa. 

Bagi Bali, Pulau Dewata yang dikenal penuh cahaya, hari ini terasa semakin penting. Sebab di balik keindahan yang memikat dunia, ada kenyataan lain: angka bunuh diri yang kian meningkat dan menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih peduli pada kesehatan mental.

Di Balik Cahaya Hangat Pulau Dewata 

Bali selama ini dikenal sebagai Pulau Dewata, tempat orang datang mencari ketenangan. Namun di balik senyum ramah dan lanskap yang memesona, ada luka sunyi yang kian terasa: meningkatnya angka bunuh diri.  

Dilansir dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian Republik Indonesia, kasus bunuh diri di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Dalam kurun empat tahun terakhir, jumlahnya bahkan melonjak hingga 60 persen. 

Pada 2020 terdata, Polri menangani lebih dari 640 kasus bunuh diri. Setahun kemudian, angka itu sempat sedikit menurun menjadi 629 kasus. Namun, tren kembali melonjak tajam setelahnya. 

Sepanjang 2022 tercatat 887 kasus bunuh diri, lalu meningkat signifikan pada 2023 hingga menyentuh 1.288 kasus. Tren kenaikan ini berlanjut pada 2024. Hingga Oktober, jumlah kasus sudah mencapai 1.023 kejadian, dan 638 di antaranya terjadi di Bali.

Angka ini menempatkan Bali di posisi ketiga tertinggi setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top