“Karena saya tidak mudah percaya dengan kondisi, saya mikir kalau sekarang tuntutan satu mungkin nanti lebih dari satu dan saya siapkan lima jurnal Scopus dan mengajukan mengajukan yang memang sesuai dengan bidang keilmuan,” jelasnya.
Langkah antisipatif ini terbukti menjadi penyelamat ketika aturan publikasi disesuaikan kembali. Meskipun demikian, rasa khawatir tetap ada selama proses verifikasi berlangsung.
“Itulah saat mendebarkan bagi saya takut tidak kekejar, ini jalan tapi PAK ini harus nunggu angka terkumpul. Kuncinya harus terus berkarya takutnya peraturan berubah,” ujarnya.
Dukungan Keluarga dan Motivasi Keteladanan bagi Empat Buah Hati
Di balik kesuksesan tersebut, dukungan keluarga menjadi pilar utama. Suaminya, Prof. Nyoman Sri Subawa, yang juga seorang akademisi, turut memberikan dukungan dan menjadi teman bertukar gagasan. Keduanya saling mendukung pengembangan kepakaran masing-masing di lingkungan perguruan tinggi.
Selain itu, dorongan terkuat Prof. Widhiasthini adalah keinginan untuk menjadi teladan nyata bagi keempat anaknya. Baginya, keteladanan tidak cukup disampaikan melalui kata-kata, melainkan perlu ditunjukkan melalui kerja keras, tindakan nyata, dan konsistensi dalam bekerja.
Konsistensi Menekuni Kepakaran Reformasi Administrasi
Perjalanan akademik Prof. Widhiasthini juga diwarnai oleh konsistensinya di bidang Reformasi Administrasi. Ia menempuh pendidikan Sarjana (S1) Administrasi Publik di Undiknas. Serta melanjutkan Magister (S2) dan Doktoral (S3) Kajian Budaya di Universitas Udayana dengan konsentrasi yang berkaitan dengan pengendalian sosial dan sosial ekonomi.










