TABANAN-fajarbali.com | Seorang fotografer asal Bali yang telah menghabiskan dua belas tahun mendampingi dan mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, serta seorang fotografer dokumenter yang merekam bagaimana perubahan iklim telah mengubah kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, terpilih sebagai penerima FOTO Bali Award perdana.
Rudi Waisnawa dan Irene Barlian menjadi dua penerima pertama penghargaan tahunan yang dipersembahkan oleh Nuanu Social Fund (NSF) dan diinisiasi oleh FOTO Bali Festival, festival fotografi internasional yang diluncurkan oleh Nuanu Creative City. Terpilih dari hampir 100 pendaftaran, masing-masing fotografer menerima dukungan sebesar Rp22 juta untuk keberlanjutan praktik fotografi mereka.
“Tahun ini, festival kami mengangkat pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah sebuah gambar tercipta. Bagi fotografer seperti Rudi dan Irene, yang tersisa adalah kerja panjang selama bertahun-tahun yang kerap luput dari perhatian dan jarang mendapatkan dukungan finansial yang sepadan. Melalui penghargaan ini, kami ingin memberikan apresiasi terhadap dedikasi tersebut sebagaimana adanya, tanpa mengharuskan seniman menjadi pengelola proyek untuk bisa mendapatkan dukungan,” ujar Founding Director FOTO Bali Award dan FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma.
Berbeda dengan skema pendanaan berbasis proyek, FOTO Bali Award oleh Nuanu Social Fund memberikan dukungan finansial yang dapat dimanfaatkan penerima untuk melanjutkan praktik fotografi mereka, tanpa kewajiban untuk menghasilkan proyek baru.
“Nuanu Social Fund dibangun dengan berlandaskan kepedulian terhadap manusia dan alam. Kedua karya ini berada tepat di persimpangan tersebut. Yang satu mengangkat bagaimana kita memperlakukan kelompok rentan di tengah masyarakat, sementara yang lainnya memperlihatkan perubahan yang sedang terjadi pada daratan dan lautan tempat kita semua bergantung. Para fotografer yang secara konsisten mendalami isu-isu ini selama bertahun-tahun sesungguhnya juga sedang melakukan kerja sosial. Mendukung mereka merupakan bagian penting dari alasan Nuanu Social Fund hadir, dan komitmen ini akan terus kami jaga,” ujar Head of Nuanu Social Fund, Ida Ayu Astari Prada.
Rudi Waisnawa — Hope and Freedom
Kategori: Karya yang Berakar pada dan Didedikasikan untuk Bali
Sejak 2014, Rudi Waisnawa (I Kadek Rodi Artawan) telah mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental di Bali. Melalui fotografi, ia berupaya mengadvokasi dan melawan stigma yang selama ini membuat banyak dari mereka terpinggirkan dan tidak terlihat di tengah masyarakat. Proyek tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah buku fotografi yang dikerjakan bersama Nicky Hogan.
“Saya berharap penghargaan ini dapat membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk melihat dan memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, yang kisah-kisahnya layak didengar dan dihargai dengan penuh martabat,” ujar Rudi Waisnawa.
Irene Barlian — Land of the Sea
Kategori: Karya yang Mengangkat Realitas Indonesia di Luar Bali
Irene Barlian memulai proyek Land of the Sea pada 2020. Proyek dokumenter yang masih berlangsung hingga kini dan mendapat dukungan dari National Geographic Society tersebut merekam kehidupan masyarakat Indonesia yang menghadapi dampak krisis iklim secara langsung, melampaui angka dan proyeksi yang selama ini mendominasi pembahasan mengenai perubahan iklim. Karya ini masuk dalam daftar pendek Leica Oskar Barnack Award 2022 dan telah dipamerkan di Objectifs, Singapura.
“Land of the Sea adalah kisah tentang dampak perubahan iklim di Indonesia, yang diceritakan melalui sudut pandang masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Rasanya masih sulit dipercaya, sekaligus menjadi sebuah kehormatan besar bagi saya untuk menerima penghargaan ini. Penghargaan ini semakin mendorong saya untuk terus berkarya dan menceritakan kisah-kisah yang paling berarti bagi saya,” ujar Irene Barlian.
Dewan Juri FOTO Bali Award
FOTO Bali Award terdiri dari dua kategori dengan bobot penilaian yang setara. Para penerima penghargaan dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari Ng Swan Ti, Managing Director PannaFoto Institute; Dr. Wiyu Wahono, kolektor seni kontemporer Indonesia; serta I Made Bayu Pramana, fotografer dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Proses penjurian dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan artistik, pendekatan visual, kedalaman konsep, serta koherensi narasi dari setiap karya yang diajukan.
“Penghargaan seperti FOTO Bali Award memberikan pengakuan terhadap praktik fotografi yang dibangun melalui komitmen jangka panjang. Dukungan langsung dari sebuah festival juga membuka lebih banyak kesempatan bagi para fotografer untuk terus berkembang,” ujar Ng Swan Ti.
“Seni memiliki kemampuan untuk merefleksikan realitas pada zamannya. Melalui kedua karya ini, kita dapat melihat bagaimana fotografi tidak hanya menjadi medium untuk merekam peristiwa, tetapi juga membuka ruang bagi kita untuk memahami lebih dalam berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Keduanya menghadirkan perspektif yang penting untuk menjadi bagian dari ingatan dan pemahaman kolektif masyarakat,” ujar Dr. Wiyu Wahono.
“Fotografi memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat mengingat, memahami, dan merefleksikan pengalaman mereka. Praktik fotografi seperti ini menunjukkan relevansi fotografi yang terus bertahan dalam mendokumentasikan sekaligus memaknai berbagai realitas kehidupan di Indonesia saat ini,” ujar I Made Bayu Pramana.
Didirikan pada 2025, FOTO Bali Festival telah berkembang menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku fotografi Indonesia dan internasional. Edisi keduanya pada 2026, yang mengusung tema AFTERIMAGE, menerima hampir 700 karya dari lebih dari 80 negara, menghadirkan 38 praktisi fotografi dari 24 negara, serta menyambut hampir 25.000 pengunjung. (M-001/rl)










