Ia menilai, kawasan pusat kota memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi yang mampu menjadi titik perputaran ekonomi baru. “Harapannya kawasan ini bisa menjadi destinasi dan pusat perputaran ekonomi. Jadi masyarakat tidak hanya lewat, tetapi bisa datang, menikmati suasana, dan berlama-lama di kawasan ini,” katanya.
Keduk menambahkan, konsep penataan saat ini masih terus digali dengan mencari karakter atau ikon yang menjadi ciri khas masing-masing kawasan di Denpasar.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kawasan Patung Kuda. Ke depan, kawasan tersebut diharapkan dapat ditata menggunakan material yang lebih permanen, termasuk unsur logam, serta dilengkapi sejumlah ruang atau spot yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk bersantai maupun berfoto. “Di kawasan Patung Kuda misalnya, akan kita lihat kembali apa yang menjadi karakter daerah tersebut. Bisa diperbarui dengan material yang lebih permanen, menggunakan logam, kemudian diberikan spot-spot agar masyarakat bisa menikmati kawasan, datang, duduk, rileks, dan berlama-lama,” jelasnya.
Selain memperkuat estetika kawasan, fasilitas pendukung juga menjadi bagian penting dalam penataan. Sejumlah fasilitas dasar seperti toilet, ruang duduk, serta spot foto diharapkan dapat tersedia sehingga kawasan pusat kota tidak sekadar menjadi jalur lalu lintas, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman.
Melalui penataan tersebut, dirinya berharap pusat kota dapat kembali menjadi kawasan yang hidup, memiliki daya tarik baru, tetap mempertahankan nilai sejarah, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.










