Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum APTISI Pusat Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., merasa optimis dengan kepengurusan APTISI Bali, sebab PTS-PTS di Bali selalu bisa menunjukkan prestasi.
Budi Djatmiko pun mengungkap sejumlah kesalahan fatal atau "dosa" pimpinan PTS yang tidak boleh dilakukan oleh anggota APTISI jika ingin PTS yang dipimpinnya tetap eksis. Catatan "dosa" rektor itu ditulisnya setelah mempelajari masalah beberapa PTS yang "gulung tikar".
Pertama, kata dia, rektor tidak memahami fungsi sistem penjaminan mutu, baik internal, eksternal serta audit mutu. Kedua, rektor tidak tahu teknik pemasaran sehingga jumlah mahasiswa tidak meningkat. Ketiga, tidak mampu menghasilkan dan meningkatkan revenue kampus, tidak mengikuti perkembangan IPTEK, tidak bersinergi, tifak punya managemen strategis (visi misi tidak jelas).
Selanjutnya, rektor tidak pernah membuat rencana strategis, tidak pernah mengukur kinerja tahunan, bulanan, tidak mengetahui KPI tiap anak buah, tidak pernah tahu permintaan KPI dari BAN PT LAM Dikti, dan Yayasan, tidak pernah serta mempertangungjawabkan kinerja.
"Jadi itulah beberapa dosa rektor yang saya rumuskan dari renungan," ungkap Budi Djatmiko, sembari menegaskan kembali agar rektor di lingkungan APTISI Bali tidak mengulang "dosa" tersebut.
Turut hadir pada pelantikan itu, Gubernur Bali diwakili Staf Ahli bidang Ekonomi dan Keuangan I Wayan Ekadina, Plt. Sekretaris Daerah Kota Denpasar Edi Mulya, Kepala LLDikti VIII Dr. Ir. IGL. Eratodi, ST., MT., Ketua PGRI Bali, serta undangan lainnya.










