Main Padel Seminggu Sekali, Kok Bisa Sampai Operasi?

IMG-20260513-WA0005
(Ilustrasi)-Olahraga padel yang kini semakin populer di kalangan anak muda.

BELAKANGAN, padel menjadi olahraga yang hampir selalu muncul di media sosial. Lapangannya makin banyak, pemainnya makin ramai, dan tidak sedikit yang menjadikannya bagian dari gaya hidup baru anak muda perkotaan.

Padel memang terlihat menyenangkan. Tidak seberat tenis, bisa dimainkan santai bersama teman, dan tampak aman untuk siapa saja. Namun di balik tren tersebut, keluhan cedera olahraga mulai semakin sering ditemukan, terutama pada lutut dan pergelangan kaki. Yang menarik, sebagian besar cedera justru terjadi pada pemain rekreasional.

Banyak yang sebelumnya jarang berolahraga lalu langsung bermain padel selama satu hingga dua jam tanpa persiapan fisik yang cukup. Tubuh yang tidak terbiasa menerima gerakan eksplosif tentu lebih rentan mengalami cedera.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL), yaitu ligamen utama pada lutut yang berfungsi menjaga stabilitas sendi. Cedera ini umumnya terjadi akibat gerakan memutar mendadak, salah pijakan, atau perubahan arah yang terlalu cepat saat bermain.

Padel memang tampak sederhana, tetapi olahraga ini menuntut pemain bergerak cepat dalam ruang yang relatif sempit. Gerakan sprint pendek, berhenti tiba-tiba, hingga pivot saat mengejar bola membuat lutut menerima tekanan berulang.

Dalam beberapa tahun terakhir, cedera ACL lebih sering dikenal pada atlet sepak bola atau basket. Namun kini kasus serupa mulai banyak ditemukan pada pemain padel, terutama usia muda dan produktif. Studi dalam BMJ Open Sport & Exercise Medicine (2023) menemukan bahwa cedera pada pemain padel bukanlah kasus yang jarang terjadi.

Cedera paling sering ditemukan pada siku, lutut, bahu, dan punggung bawah. Selain ACL, beberapa cedera lain yang juga cukup sering ditemukan pada pemain padel adalah ankle sprain, tennis elbow, strain otot paha, nyeri bahu akibat overuse, dan cedera tendon Achilles.

BACA JUGA:  Badung Upayakan Ada Manajemen Oksigen untuk Kebutuhan Masyarakat

Sayangnya, banyak orang masih menganggap nyeri lutut setelah olahraga hanya keseleo biasa. Tidak sedikit yang memilih beristirahat sendiri di rumah karena merasa masih bisa berjalan. Padahal cedera ACL sering kali tidak langsung membuat seseorang tidak bisa berdiri.

Gejalanya dapat berupa bunyi “pop” saat cedera, lutut membengkak beberapa jam kemudian, atau rasa goyah saat berjalan.Jika kondisi ini diabaikan, risiko kerusakan sendi jangka panjang menjadi lebih besar.

Lutut yang tidak stabil dapat memicu robekan meniskus hingga pengapuran sendi dini. Pada beberapa kasus, pasien bahkan memerlukan operasi rekonstruksi ACL untuk mengembalikan fungsi lutut.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan satu hal penting: meningkatnya tren olahraga belum tentu diikuti kesiapan fisik yang memadai. Tidak sedikit orang yang langsung bermain intensitas tinggi demi mengikuti tren atau sekadar mencari aktivitas akhir pekan tanpa memahami kemampuan tubuhnya sendiri. Kurangnya pemanasan juga masih sering ditemukan.

Banyak pemain langsung bermain selama satu hingga dua jam tanpa stretching maupun latihan aktivasi otot sebelumnya. Padahal otot dan sendi yang tidak siap akan lebih mudah mengalami cedera saat menerima gerakan eksplosif berulang.

Risiko cedera sebenarnya dapat dikurangi dengan beberapa langkah sederhana, seperti melakukan pemanasan sebelum bermain, meningkatkan intensitas olahraga secara bertahap, menggunakan sepatu yang sesuai, serta rutin melakukan latihan penguatan otot paha dan core.

Nyeri lutut setelah bermain padel juga sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama bila disertai pembengkakan, rasa tidak stabil, atau nyeri yang menetap beberapa hari. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan ada atau tidaknya cedera ligamen maupun kerusakan struktur pada lutut. Padel pada dasarnya tetap merupakan olahraga yang baik untuk kesehatan.

BACA JUGA:  Antisipasi Penyebaran Virus Japanese Encephalitis

Di tengah gaya hidup yang semakin sedentari, meningkatnya minat masyarakat untuk aktif bergerak tentu menjadi hal positif. Namun olahraga yang terlihat santai sekalipun tetap membutuhkan persiapan tubuh yang baik.

Tubuh bukan mesin yang bisa tiba-tiba dipaksa aktif setelah lama minim bergerak. Karena itu, mungkin yang perlu dibangun bukan hanya tren olahraganya, tetapi juga budaya berolahraga yang lebih sehat dan lebih sadar terhadap kondisi tubuh sendiri.***

Penulis: dr. I Made Yogiswara Karang.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top