“Jadi tidak heran, para perupa Unhi memilih istilah Titi Ugal Agil untuk menggambarkan setiap tantangan dan rintangan dalam perjalanan kreatif mereka,” paparnya.
Seni Rupa Sebagai Media Didaktis
Menurut Dr. Agung Paramita, karya yang dipamerkan oleh dosen dan mahasiswa Seni Rupa Unhi menunjukkan bahwa seni tidak hanya sebagai media untuk mengungkapkan perasaan, menuangkan imajinasi, atau menangkap kesan-kesan inderawi terhadap realitas, melainkan juga menjadi media didaktis (pendidikan) dalam menyampaikan secara visual ajaran agama Hindu.
Hal ini tidak terlepas dari penciri dari Prodi Seni Rupa Unhi yang berlatar keagamaan Hindu.
Setidaknya, menurut Dr Agung Paramita, ini tercermin melalui beberapa judul dari karya dosen dan mahasiswa. Karya I Kadek Angga Yasa berjudul Alam Baka, Titi Ugal Agil dan Cikarbala melukiskan ajaran eskatologi dalam Hindu.
Lukisan tersebut mengisahkan perjalanan roh setelah kematian atau roh di alam baka. Lukisan berbahan pulpen akrilik di atas kanvas ini penggambarannya cukup dramatik, menampilkan roh-roh ringkih yang diinjak raksasa neraka, begitu juga karya berjudul Titi Ugal Agil dan Samsara.
Karya Angga Yasa ini bisa dikatakan yang paling relevan dengan tema yang diangkat.
Karya lain yang tak kalah filosofis adalah karya I Kadek Agus Dwi Dharma Saputra berjudul Triguna.
Istilah Triguna digunakan untuk menyebut Tiga Guna, sifat atau kualitas yang menyelimuti kehidupan manusia yang terdiri dari Sattwam, Rajas dan Tamas. Triguna Tattwa sebenarnya bagian dari ajaran agama Hindu yang bersumber dari Samkya Kuno.










