Benar saja, saat dinyatakan lolos ke final, Teaty Team sempat kebingungan karena waktu itu mereka mengikuti kegiatan yang harinya sama dengan pengumuman pemenang dan disertai keterbatasan dana.
Mereka pun mencoba untuk menghubungi panitia perlombaan, dan ternyata ada kebijaksanaan dari pihak penyelenggara bahwa semua finalis tidak diwajibkan hadir ke Bogor.
“Seandainya, kami menyerah dengan keterbatasan dana dan takut mencoba kala itu serta dengan berbagai kesibukan yang ada, maka kami tidak pernah memenangkan perlombaan tersebut serta melalui proses yang menantang dengan berbagai diskusi yang panjang dan ternyata Tuhan sudah memberikan jalan bagi siapapun yang tidak menyerah dengan keadaan dan tidak takut gagal, puji syukur yang tak pernah henti kami ucapkan kepada Tuhan, dan terima kasih kepada dosen pembimbing, keluarga yang telah men-support, dan berkat kerja sama tim semua ini takkan pernah terjadi,” pungkas Teaty Team dengan kompak.
Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang membawa harapan besar bagi tonggak keberhasilan suatu bangsa. Selain itu, mahasiswa juga menjadi piranti penting kemajuan negara melalui pengembangan kemampuan dan soft skill yang dimilikinya.
Selaras dengan hal itu, Risa Pebriyanthi selaku ketua dari Teaty Team mengungkapkan bahwa sebagai seorang mahasiswa kita harus dapat memanfaatkan segala peluang serta kesempatan yang dimiliki.
"Waktu itu mahal jangan sia-siakan waktumu untuk drama yang tidak penting, kesempatan berkompetisi di masa mencari gelar Sarjana tidak akan bisa diulang momennya. Tugas kita sekarang adalah selalu melakukan hal yang terbaik, let it flow and just do the best to every challenge. Kalau dibilang akan lelah ya pasti karena yang namanya tantangan harus diperjuangkan, yang namanya cobaan harus dicobain untuk dimenangkan. Jangan pernah menyerah, kalau capek coba istirahat sejenak tetapi jangan berhenti di jalan," ujar Risa Pebriyanthi dengan pesan penutup yang diberikannya. (rl)










