Di samping itu, adanya ambisi untuk mendapatkan 24 SKS pada semester depan turut menjadi dorongan bagi mereka mengikuti perlombaan. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman membuat ide bisnis pun tidak menggetarkan semangat mereka untuk mengikuti perlombaan bisnis tersebut.
Berdasarkan keterangan dari Teaty Team, saat awal pembentukkan tim hingga sudah mendaftar registrasi awal perlombaan, mereka belum memiliki ide bisnis sama sekali. Berbagai diskusi panjang, baik bertemu secara offline maupun melalui aplikasi online meeting pun dilakukan sembari diselipkan dengan kegiatan berorganisasi yang saat itu cukup padat, tetapi tidak membuat mereka menyerah dan lelah hingga akhirnya tercetuslah ide untuk membuat minuman teh dengan kurma sebagai pengganti gula.
Pada tahap pertama seleksi yakni membuat Bisnis Model Canvas (BMC), adalah awal mereka berusaha untuk mempelajari cara mendesain rancangan BMC di aplikasi desain dan membuat sembilan komponen BMC dengan penuh ketelitian serta diskusi panjang.
Sebelumnya, tak pernah terpikirkan oleh mereka untuk melaju ke babak final usai melihat saingan dari tim-tim universitas ternama di Indonesia. “Ketika kami sudah berhasil membuat rancangan Bisnis Model Canvas dan desainnya di sela-sela kesibukan, kami sudah bangga dengan proses dari nol bisa dilewati karena yang terpenting bagi kami adalah sebuah proses dan pengalaman yang didapat sedangkan hasil itu urusan belakangan dan merupakan bonus dari kerja keras. Tapi kami terkejut saat pengumuman finalis 10 besar, nama tim kami menjadi tim terbaik nomor 7 dari puluhan tim yang ada,” ungkap Diah Okta.










