Maestro Wayan Berata “Hidup Kembali” melalui Mahakarya Legendaris

IMG-20260701-WA0044
Sanggar (Sekaa Gong) Gita Bandana Praja Banjar Belaluan Sadmerta, Duta Kota Denpasar, membangkitkan kembali mahakarya maestro karawitan Bali, Almarhun Wayan Berata, melalui Rekasadana Karya Legendaris, Selasa (30/6/2026).

DENPASAR– Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi suasana haru dan kekaguman saat Sanggar (Sekaa Gong) Gita Bandana Praja Banjar Belaluan Sadmerta, Duta Kota Denpasar, membangkitkan kembali mahakarya maestro karawitan Bali, Almarhun Wayan Berata, melalui Rekasadana Karya Legendaris, Selasa (30/6/2026).

Pergelaran ini bukan sekadar pertunjukan seni. Bagi para penikmat karawitan, setiap tabuh dan gerak tari seolah membawa kembali jejak kejayaan Wayan Berata yang telah memberi warna besar bagi perkembangan seni karawitan Bali. Tak heran, kursi penonton telah dipenuhi sejak lama sebelum pertunjukan dimulai.

Tiga karya monumental dipentaskan, yakni Tabuh Lelambatan Nem Galang Kangin, Tari Kupu-kupu Tarum, dan Sendratari Narakusuma. Ketiganya dibawakan oleh generasi muda bersama para seniman yang pernah berguru langsung kepada almarhum Wayan Berata, menciptakan kolaborasi lintas generasi yang sarat makna.

Pembina Sanggar Gong Gita Bandana Praja, Prof. Dr. I Gede Yudarta, S.Skar., M.Si., menjelaskan, Tabuh Lelambatan Nem Galang Kangin merupakan pengembangan dari Tabuh Galang Kangin yang diciptakan Wayan Berata pada 1968 untuk Festival Gong Kebyar (Merdangga Utsawa). Karya tersebut berhasil meraih Juara I tingkat Bali dan menjadi tonggak lahirnya tabuh lelambatan modern.

"Struktur, teknik, dan unsur musikal dalam tabuh ini kemudian menjadi acuan lahirnya berbagai garapan tabuh lelambatan berikutnya," ungkapnya.

Berbeda dengan tabuh kebyar yang penuh dinamika, karya ini menghadirkan suasana tenang, megah, dan kontemplatif melalui perpaduan instrumen gamelan yang menghasilkan harmoni khas Bali.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top