Suasana kemudian berubah lebih semarak saat Tari Kupu-kupu Tarum tampil di atas panggung. Karya ciptaan Wayan Berata pada era 1950-an ini pernah dipentaskan di Tiongkok pada 1956 sebagai bagian dari misi promosi seni budaya Bali. Dalam pergelaran kali ini, tarian disajikan secara utuh, termasuk bagian pelayon yang selama ini jarang dipentaskan.
Puncak pergelaran ditandai dengan pementasan Sendratari Narakusuma, karya yang mengantarkan Wayan Berata meraih Juara I Festival Gong Kebyar Bali tahun 1978.
Rekonstruksi karya tersebut melibatkan sejumlah seniman yang pernah menjadi bagian dari garapan aslinya, di antaranya Made Kara dan Nyoman Suarsa (Yangpung), sehingga mampu menghadirkan kembali roh pertunjukan yang autentik.
Melalui Rekasadana Karya Legendaris ini, Kota Denpasar tidak hanya mengenang sosok maestro Wayan Berata, tetapi juga menegaskan komitmennya menjaga dan mewariskan karya-karya besar seni Bali agar terus hidup, berkembang, dan menginspirasi generasi penerus. [gde]










