“Saat ini para siswa kami yang sudah tamat pelatihan tetapi belum mendapat penempatan sebanyak 304 orang, terdiri dari 184 laki-laki dan dan 120 orang perempuan,” ungkap Dadang.
Dijelaskannya, LPK DARMA STIKOM Bali Group punya tiga cara memberangkatkan anak-anak ke Jepang. Selain dengan visa magang atau Jisshusei, bisa juga menggunakan visa kerja Specified Sikll Worker atau Tokutei Ginou dengan penghasilan lebih besar.
Cara terakhir berangkat dengan Student Visa atau Visa Pelajar. “Ini lebih mudah, karena hanya diperlukan sertifikat kursus Bahasa Jepang selama 320 jam, langsung kami proses ke Jepang. Saat ini kami sedang proses 18 mahasiswa ke Jepang. Empat orang akan berangkat pada Juni 2022 dan 14 orang akan berangkat bulan September 2022," katanya.
"Di sana mereka akan belajar bahasa Jepang di sebuah akademi selama 1 tahun 9 bulan sambil magang kerja secara arubaito atau part time. Progam ini tidak akan mengganggu kuliah mereka di STIKOM Bali karena ini sejalan dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Kemendikbud RI. Meski kerja part time tapi penghasilannya sama dengan penghasilan magang," terang Dadang Hermawan.
Direktur LPK DARMA Drs. Dede Heryadhy menambahkan, seharusnya yang terbang nanti malam adalah 29 orang, namun satu orang terpaksa ditunda keberangkatannya karena test PCR hasilnya positif.
“Kabar ini kami baru terima semalam dan saya sudah sampaikan kepada peserta dan orangtuanya. Saya langsung koordinasi dengan pihak Jepang dan diminta yang bersangkutan karantina mandiri dulu seminggu, setelah itu test PCR lagi kalua hasilnya negatif dia bisa menyusul ke Jepang,” terang Dede Heryadhy.










