(3) Apakah profesor sudah melampaui zona nyaman publikasi dan angka kredit, menuju peran sebagai perumus solusi strategis bagi negara? Dalam taklimat itu, peran ilmuwan diminta bergeser: dari sekadar pengkritik menjadi mitra pemerintah dalam desain kebijakan, teknologi, dan tata kelola negara yang lebih bersih.
Kritik tetap diperlukan, tetapi harus dibarengi tawaran jalan keluar yang terukur. Bagi profesor di PTS dan PTN, ini adalah ajakan untuk menulis bukan hanya untuk jurnal, tetapi juga untuk transformasi kebijakan.
Rektor: Dari Pengelola Kampus ke Pemimpin Peradaban
Pesan strategis bagi pimpinan PTN/PTS bahkan lebih tajam. Rektor dan jajaran pimpinan diminta mengarahkan kampus menjadi pusat riset terapan, inovasi teknologi, dan penghasil SDM siap pakai untuk sektor-sektor kunci: kesehatan, pangan, energi, pertahanan, dan industri kreatif.
Ini berarti kampus harus membaca peta kebutuhan nasional, lalu menerjemahkannya menjadi kebijakan akademik, struktur kelembagaan, dan budaya kampus yang baru. Manajemen perguruan tinggi juga didorong memperkuat tata kelola keuangan dan kapasitas penyerapan anggaran riset. Pesannya jelas: ketika negara menambah dukungan pendanaan, kampus harus siap menyerap, mengelola, dan mempertanggungjawabkannya secara akuntabel.
Rektor tidak lagi cukup mahir dalam administrasi, tetapi perlu piawai dalam governance dan leadership yang berorientasi kinerja. Di atas semua itu, pimpinan PTS dan PTN diajak membangun lebih banyak kolaborasi lintas kampus dan lintas sektor.










