Lima PTS Bali di Istana Negara: Otak Bangsa, Lokomotif Kemandirian dan Babak Baru Hubungan Negara-Kampus

IMG-20260121-WA0019
Lima Rektor Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Bali, turut dipanggil ke Istana Negara guna berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto.

Setiap kurikulum, setiap riset, setiap lulusan adalah pernyataan sikap: berpihak pada kemandirian atau membiarkan ketergantungan struktural terus berlanjut. Bagi lima PTS di Bali yang hadir, pesan ini terasa sangat dekat.

Di satu sisi, mereka berada di episentrum industri pariwisata yang rentan guncangan global; di sisi lain, mereka ditantang menghasilkan ilmuwan, profesional, dan entrepreneur yang mampu mengubah wajah ekonomi Bali dan Indonesia dari rapuh menjadi tangguh.

Kampus sebagai Lokomotif Kemandirian Nasional

Taklimat Presiden menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi lokomotif penguasaan sains dan teknologi untuk memperkuat kemandirian bangsa. Kata “lokomotif” mengandung pesan: kampus bukan gerbong yang menunggu ditarik, melainkan sumber tenaga yang menggerakkan rangkaian panjang pembangunan nasional.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, arah itu diterjemahkan ke beberapa poros strategis: (1) Penguasaan sains dan teknologi sebagai fondasi kedaulatan, bukan sekadar akses teknologi impor. (2) Pencetakan SDM unggul berintegritas yang mampu bersaing global tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.

(3) Penataan ulang ekosistem pendidikan tinggi agar kualitas, relevansi, dan akses tetap terjaga tanpa membebani masyarakat secara berlebihan. Bagi PTS di Bali, ini berarti program studi tidak cukup “laris” secara pasar, tetapi harus relevan dengan kebutuhan strategis: kesehatan, pangan, energi, pertahanan, dan industri kreatif berbasis pengetahuan. Kampus pariwisata, bisnis, teknologi, kesehatan, dan pendidikan di Bali harus berani memposisikan diri sebagai pusat solusi, bukan hanya produsen ijazah.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top