Di tengah kesibukannya itu, Ko Adnyana masih menyibukkan diri mengelola siniar dengan berbagai tema. Ia juga kerap diundang sebagai nara sumber tentang dunia musik. Semua dijalani dengan santai.
Jurnalistik, bagi Ko Adnyana, adalah awal yang tak berujung dalam kehidupannya. Ko Adnyana muda memulai karir sebagai wartawan di salah satu media terbesar di Bali tahun 1993 hingga 2005.
Setahun hengkang sebagai reporter di media tersebut, barulah Ko Adnyana bergabung sebagai dosen di UPMI (sebelumnya IKIP PGRI Bali). Namun api jurnalistik dalam dirinya tak pernah redup apalagi padam.
Sambil menekuni profesi barunya, Ko Andnyana tetap menjalankan fungsi pers. Insting jurnalistiknya terlanjur mendarah daging.
"Sewaktu masih mahasiswa aktif di koran kampus, juga saat gabung di Wiyata Mandala, saya sering keliling memberikan ceramah penulisan dan jurnalistik ke sekolah-sekolah," kata Ko Adnyana.
Mungkin karena dikenal suka ngaja" itu, ketika IKIP PGRI membutuhkan dosen untuk mata kuliah konsentrasi jurnalistik, saya ditawari ikut bergabung oleh Kaprodi PBID waktu itu. Keterusan sampai sekarang," imbuh dia, mengenang.
Ko Adnyana menjadikan komitmen sebagai pegangan hidup. Ketika berani mengambil keputusan, harus sampai pada puncaknya. Profesi dosen ia tekuni dengan terus megaktualisasi diri. Lanjut Magister (S2) dan Doktor (S3).
Soal disertasinya, ia mengungkapkan tertarik meneliti lebih dalam fenomena jurnalisme warga di tengah era digitalisasi yang terjadi saat ini.
Disertasi ini berangkat dari kekhawatirannya terhadap unggahan masyarakat di media sosial. Karena berpotensi terjerat hukum.










