Ketua KAT Kelompok 11, Komang Angga Mahadira, mengatakan bahwa landmark tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh anggota kelompok.
“Landmark ini merupakan hasil dari kerja sama dan kebersamaan seluruh anggota Kelompok 11. Kami berharap keberadaannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi salah satu kenangan dari kegiatan pengabdian kami di Desa Sedang,” ujar Angga.
Selain menjadi identitas visual desa, keberadaan “I Lova Desa Sedang” diharapkan dapat memberikan pesan kepada masyarakat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan sekitar.
Sampah botol dan plastik yang dikumpulkan dari lingkungan desa mendapatkan fungsi baru melalui proses kreatif, sekaligus menjadi bagian dari sebuah karya yang dapat dilihat dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Landmark tersebut juga diharapkan menjadi daya tarik baru bagi Desa Sedang sekaligus menjadi ruang untuk dokumentasi bagi masyarakat maupun pengunjung.
Kehadirannya dapat memperkenalkan Desa Sedang melalui media sosial dengan membawa pesan yang lebih luas, yaitu bahwa menjaga lingkungan dan menghasilkan karya kreatif dapat berjalan secara bersamaan.
Bagi Kelompok KAT Universitas Ngurah Rai Kelompok 11, pembuatan landmark ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Program tersebut menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan berskala besar, tetapi juga dapat dimulai melalui langkah sederhana dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.
Melalui “I Love Desa Sedang”, sampah yang sebelumnya dipandang sebagai limbah diubah menjadi bagian dari sebuah karya yang memiliki nilai estetika, fungsi, dan pesan edukatif. Landmark ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol kecintaan terhadap Desa Sedang, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sampah dapat memiliki nilai ketika dikelola melalui kreativitas, kepedulian, dan kerja sama. [rel/gde]










