Meski memiliki potensi yang melimpah, Putu Sumardiana tidak menampik adanya dinamika dan tantangan besar dalam pemanfaatan serta pengelolaan ruang laut saat ini. Penerapan instrumen ekonomi biru terus didorong untuk menjamin keseimbangan antara target pembangunan infrastruktur dan pemeliharaan daya dukung lingkungan. Kebijakan ini dinilai sangat selaras dengan peta jalan pemerintah pusat, mulai dari penangkapan ikan terukur, budidaya berkelanjutan, hingga penanganan polusi pesisir.
Di sisi lain, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi turut menjadi sorotan utama dalam agenda diskusi tingkat tinggi pada peringatan tersebut. Perluasan wilayah lindung yang ditargetkan mencapai jutaan hektare dinilai tidak akan membawa dampak signifikan tanpa adanya tata kelola yang inklusif. Kawasan konservasi yang ditetapkan harus mampu memberikan kontribusi ekologis yang nyata sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat sekitar secara berkesinambungan.
Komitmen pengawasan ekosistem tersebut dipertegas oleh Chief Conservation Officer Yayasan WWF Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki. Melalui program inovatif bertajuk Laut SEBASAH, pihaknya aktif merangkul komunitas Marine Buddies dan Plastic Free Ocean Network. Gerakan ini berfokus pada langkah preventif berupa minimalisasi pasokan sampah plastik dari sumbernya demi menyelamatkan pesisir Indonesia dari ancaman degradasi lingkungan.
“Target angka jutaan hektare kawasan konservasi ini tidak akan bermakna tanpa tata kelola yang efektif dan inklusif. Mari bersama kita memastikan kawasan konservasi benar-benar memberikan manfaat ekologi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Dewi.










