Jelang Akhir Tahun, Yuk Liburan Hemat yang Tak Bikin Sekarat

Ilustrasi liburan. (Foto: Freepik)

“Jangan liburan hanya karena permasalahan-permasalahan sebagai fenomena gunung es yang nanti bisa menghambat tujuan-tujuan dari hidup. Masalah-masalah tersebut misalnya karena pomo, takut diputusin pacar, gengsi, dendam, takut ditinggalkan teman, dendam masa lalu dan lain-lain,” ujar Imelda.   

Setelah mengetahui tujuan liburan, maka langkah selanjut menurut Imelda adalah menentukan besarnya anggaran yang dibutuhkan dan sumbernya dari mana. Imelda menerangkan, bahwa anggaran liburan yang sesuai dengan kebutuhan bisa diambilkan dari alokasi anggaran tabungan, investasi dan asuransi, sementara biaya leburan yang hanya karena keinginan, hanya bisa diambilkan dari uang sisa dari pengalokasian pendapatan.  Untuk pengalokasian pendapat sendiri, kata Imelda, yang baik adalah adalah 10 persen untuk kegiatan ibadah dan sosial, 20 persen untuk tabungan dan investasi serta asuransi, 30 persen untuk membayar utang, dan 40 persen untuk memenuhi kebutuhan. Khusus pengalokasian membayar utang, lanjut Imelda sebisa mungkin dikurangi lagi dari 30 persen sehingga sisanya bisa dimasukkan dalam alokasi tabungan. “Jika alokasi untuk membayar hutang lebih kecil, maka sisanya akan bisa dimasukkan dalam alokasi tabungan,” ujar Imelda.

Liburan yang sesuai dengan kebutuhan akan dapat menunjang produktifitas dalam mencapai tujuan hidup. “Produktif itu apa, produktif itu ada hasilnya,” katanya. Imelda mencontohkan liburan yang produktif adalah seperti seorang blogger yang sering melakukan traveling. Dengan sering melakukan traveling maka akan menghasilkan banyak konten yang fresh yang nantinya bisa dijual di dalam blognya. Liburan yang dimaksudkan untuk menunjang bisnis, kata Imelda juga dapat dikategorikan sebagai liburan dalam kategori kebutuhan.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top