Himpunan Perupa Payangan Tampilkan 38 Karya dalam “Udhar Banda Karma” di Santrian Art Gallery

2026-09-18-at-21.29.08
Suasana pembukaan pameran kolektif bertajuk "Udhar Banda Karma" oleh Himpunan Perupa Payangan bertempat di Santrian Art Gallery, Jumat (18/90. (FB/Dartha)

DENPASAR-fajarbali.com | Himpunan Perupa Payangan resmi menggelar pameran seni rupa kolektif bertajuk "Udhar Banda Karma" di Santrian Art Gallery, Sanur. Pameran yang berlangsung mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026 ini menampilkan 38 karya pilihan dari 18 perupa. Sajian karya yang dipamerkan merangkum dinamika keberagaman karakter medium, mulai dari lukisan tradisional, eksplorasi abstrak, hingga seni patung tiga dimensi.

Pameran ini menandai momentum penting perjumpaan dua karakter kultural Bali, yakni pedalaman Payangan yang sejuk dan kawasan pesisir Sanur yang dinamis. Jika sebelumnya para seniman ini mengasah energi internal lewat pameran bertema "Bayu-Idep-Karma" di Ubud pada Mei 2026, kini mereka melangkah lebih jauh. Perpindahan tempat pameran dari Kabupaten Gianyar ke Kota Denpasar ini dimaknai sebagai ziarah kultural menuju ruang dialog seni rupa yang lebih cair.

Owner Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan oleh Himpunan Perupa Payangan. Menurutnya, pameran ini bukan sekadar pajangan visual, melainkan bentuk dialog kritis yang matang dalam merespon perkembangan zaman.

“Sanur yang sejak awal abad ke-20 telah menjadi ruang hibriditas dan keterbukaan seni rupa modern, kini menjadi saksi bagaimana para perupa Payangan melakukan laku udhar, mengurai, melonggarkan, dan membebaskan kreativitas mereka dari keterikatan pakem tradisional. Himpunan Perupa Payangan menunjukkan kepada kita bahwa merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman,” ujarnya.

Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kabupaten Gianyar. Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, menilai langkah para seniman melintasi batas geografis menuju pesisir Sanur sebagai keputusan yang berani dan visioner. Langkah ini membuktikan bahwa ekosistem seni di Payangan terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

BACA JUGA:  Koser Canangkan Penyuluh Kebudayaan, Dukung Pengembangan Prodi Bahasa Bali di UPMI

“Payangan secara historis adalah wilayah yang subur, tidak hanya alamnya tetapi juga kreativitas masyarakatnya. Langkah Himpunan Perupa Payangan untuk 'melompat keluar' adalah bukti nyata bahwa seniman kita tidak pernah statis. Mereka mampu mengurai belenggu pakem tanpa kehilangan jati diri, serta siap mendialogkan capaian estetiknya di panggung yang lebih luas. Pemerintah Kabupaten Gianyar akan selalu mendukung inisiasi kolektif yang menghidupkan ekosistem seni rupa kita,” tegasnya.

Ketua Himpunan Perupa Payangan, I Made “Dolar” Astawa, menyebut pameran ini sebagai salah satu tonggak sejarah terpenting bagi perjalanan komunitasnya. Keberagaman gaya yang dihadirkan para anggota menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan ekspresi artistik kelompok tersebut.

“Kami mencoba melakukan laku Udhar Banda Karma—sebuah upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka. Keberagaman ini adalah kekuatan kami sebagai sebuah keluarga besar. Pameran ini adalah persembahan jujur dari pedalaman Payangan untuk dunia seni rupa yang lebih luas,” ungkapnya.

Secara filosofis dan etimologis, konsep pameran ini dijabarkan secara rinci oleh Dr. I Nyoman Suardina selaku Penulis Pameran. Istilah udhar diartikan sebagai proses mengurai atau melepas ikatan, banda sebagai belenggu, dan karma sebagai perbuatan atau hasil tindakan masa lalu. Dalam konteks ini, tradisi dipandang sebagai warisan mulia (karma), namun jika diadopsi secara mentah tanpa pemaknaan baru, tradisi berisiko menjadi belenggu (banda) bagi kreativitas seniman.

“Para perupa tidak sedang membuang atau mengkhianati akar lukisan tradisional Bali yang berbasis pada cerita religius dan detail magis. Sebaliknya, mereka melakukan udhar, melonggarkan ikatan pakem tersebut agar kanvas-kanvas mereka memiliki ruang bernapas bagi eksperimen baru dan membebaskan diri dari belenggu ekspektasi pasar komoditas,” jelasnya.

BACA JUGA:  Semeton Pasek Dituntut Mampu Jawab Tantangan Zaman dengan Inovasi dan Kolaborasi

Di ruang pameran, pengunjung dapat menikmati spektrum visual yang terbagi ke dalam empat kategori karya. Kategori pertama mencakup perupa yang mempertahankan teknik presisi dan kedalaman spiritual tradisi sebagai pilihan sadar. Kategori kedua menampilkan karya hibrida yang memadukan karakter figuratif lokal dengan komposisi serta perspektif modern.

Kategori ketiga diwarnai oleh karya-karya abstrak yang meleburkan bentuk figuratif menjadi ekspresi warna dan tekstur, menerjemahkan spiritualitas sekala (berwujud) menjadi energi niskala (tak berwujud). Sementara kategori keempat diisi oleh dinamika seni patung yang memanfaatkan medium kayu dan batu secara dekonstruktif untuk merespons ruang serta isu-isu manusia modern.

Pameran "Udhar Banda Karma" menjadi pembuktian kematangan Himpunan Perupa Payangan dalam menempatkan diri pada peta seni rupa yang lebih luas. Sebanyak 18 perupa yang terlibat dalam perhelatan ini antara lain I Made "Dollar" Astawa, I Made Suparta, I Nyoman Suandi, I Ketut Arka, I Gede Susilayasa (De Sila), I Nyoman Suardina, I Ketut Sunama, I Wayan Badra, I Gusti Putu Dyatmika, I Made Ariasa, I Made Jongko, Ngakan Ketut Suarbawa, Ngakan Made Sudarsana, I Komang Sudiarta (Loster), I Made Jendra, I Wayan Putrayasa, I Nyoman Sumendra (Rai Sumendra), dan I Wayan Merta. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top