DENPASAR-fajarbali.com | Pertumbuhan ekonomi Bali yang terus ditopang sektor pariwisata membuka berbagai peluang, sementara perubahan ekonomi global tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan investor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 5,78% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91% terhadap perekonomian daerah.
Konteks tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Wealth Wisdom 2026 Bali. Mengusung tema “Finding Balance, Building Resilience” dengan semangat “Growing Together Through Changes”, Permata Bank mengajak nasabah memahami berbagai faktor yang memengaruhi pasar, mengenali risiko dan peluang, serta mempertimbangkan strategi investasi yang tetap selaras dengan tujuan finansial.
“Bali mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan di tengah perubahan. Nilai tersebut sejalan dengan tema Wealth Wisdom tahun ini, Finding Balance, Building Resilience. Kami ingin terus mendampingi nasabah untuk menghadapi perubahan, menjaga apa yang berharga, dan memanfaatkan peluang untuk tumbuh bersama,” jelas Direktur Consumer & Branch Banking Permata Bank, Eddie Sajoga.
“Bagi kami, kekayaan bukan hanya soal angka atau hasil investasi, tetapi juga tentang apa yang ingin kita jaga dan persiapkan bagi orang-orang yang kita sayangi. Di tahun yang ke-12 ini, Wealth Wisdom diharapkan kembali menjadi ruang untuk bersilaturahmi dan belajar bersama, tidak hanya tentang ekonomi dan investasi, tetapi juga kehidupan yang lebih seimbang,” lanjut Eddie.
Membaca Arah Pasar di Tengah Perubahan Ekonomi Global
Wealth Wisdom 2026 Bali menghadirkan sesi “Turning Economic Shifts into Opportunities” bersama Gema Goeyardi, Financial Educator, dan Eri Koesnadi, Director Batavia Prosperindo Aset Management. Keduanya membagikan perspektif mengenai berbagai faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi pasar serta menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi.
Gema menyoroti bagaimana kebijakan perdagangan, pergerakan harga minyak, hingga kondisi likuiditas global dapat memberikan dampak berantai terhadap nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan berbagai kelas aset.
“Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Investor perlu memahami bagaimana perubahan makroekonomi dapat memengaruhi berbagai sektor dan aset sebelum menentukan ke mana dana akan dialokasikan. Makroekonomi menjadi salah satu pertimbangan awal dalam melihat peluang investasi, yang kemudian perlu dilengkapi dengan pemahaman terhadap fundamental dan valuasi,” ujar Gema.
Menurutnya, kondisi bisnis maupun instrumen investasi juga perlu dievaluasi secara berkala agar strategi yang diterapkan tetap sesuai dengan profil risiko dan tujuan finansial investor.
Sementara itu, Eri Koesnadi menyoroti sejumlah indikator global dan domestik yang perlu diperhatikan, mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat, inflasi, kondisi fiskal, harga energi, hingga perkembangan investasi di sektor teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI). Faktor-faktor tersebut turut memengaruhi kondisi likuiditas dan pergerakan aset di berbagai pasar.
“Pasar bersifat dinamis dan tidak ada satu kondisi yang dapat dipastikan akan berlangsung selamanya. Karena itu, investor perlu melihat berbagai indikator secara menyeluruh, mulai dari perkembangan inflasi, suku bunga, harga energi, kebijakan fiskal hingga arah perekonomian domestik dan global sehingga dapat menyusun strategi yang lebih adaptif terhadap perubahan,” ujar Eri.
Perspektif tersebut menegaskan pentingnya meninjau alokasi aset, tingkat risiko, dan kesesuaian strategi secara berkala, terutama ketika kondisi ekonomi maupun prioritas finansial mengalami perubahan.
Melihat Wealth Management secara Lebih Holistik
Memasuki tahun penyelenggaraan ke-12, Wealth Wisdom terus menjadi ruang edukasi dan pertukaran perspektif bagi nasabah Permata Bank mengenai berbagai aspek dalam perjalanan kekayaan.
Kebutuhan finansial dapat berkembang pada setiap tahap kehidupan, mulai dari perencanaan personal dan keluarga, pengembangan bisnis dan sumber kekayaan, hingga persiapan legacy bagi generasi berikutnya. Perspektif tersebut tercermin dalam enam pilar Wealth Wisdom 2026, yaitu Frugality, Purpose, Health, Relation, Giving, dan Moments, yang menggambarkan berbagai dimensi dalam membangun kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
Permata Bank turut mendukung perjalanan tersebut melalui pendampingan Relationship Manager, solusi wealth management yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah, serta kemudahan digital melalui Digital Transaction Assistance (DiTA).
Perhatian terhadap keberlanjutan kekayaan lintas generasi juga diwujudkan melalui Next Gen Trip to Shanghai 2026, program edukatif bagi generasi muda dari keluarga nasabah Priority dan Private untuk memperluas wawasan global, kepemimpinan, dan perspektif bisnis melalui kunjungan ke universitas dan perusahaan di Shanghai.
Setelah Bali, rangkaian Wealth Wisdom 2026 akan berlanjut ke Medan pada 23 September, Bandung pada 30 September, Surabaya pada 7 Oktober, dan ditutup di Jakarta pada 22 Oktober 2026. (M-001/rl)









