Gagahnya Taruna Goak saat Piodalan Nadi dan Melaspas di Pura Pajenengan Panji Sakti

Taruna Goak

Megoak-goakan kemudian bermetamorfosis sebagai sebuah tradisi dan permainan rakyat. Tradisi ini dimulai sejak masa pemerintahan I Gusti Anglurah Ki Barak Panji Sakti pada abad ke-17, dan bertahan hingga kini.

"Keberadaan pura ini merupakan episentrum pemersatu keturunan-keturunan beliau dalam melanjutkan kewajiban kepada masyarakat Buleleng meski kami lebih bergerak di bidang budaya," jelas Gusti Panji Anom.

Pura Pajenengan Panji Sakti, yang dulunya bekas istana kerajaan dan moksa I Gusti Anglurah Ki Barak Panji Sakti mengandung nilai-nilai historis mendalam, mulai dari pra kolonial, kolonial, pasca-kolonial dan era kemerdekaan.

I Gusti Ngurah Agung Ade Panji Anom

Di zaman penjajahan Belanda, khususnya ekspansi kedua, para pejuang rakyat berkumpul di tempat ini untuk menyusun strategi gerilya, memohon petunjuk kepada Ida Betara, sekaligus menjadi tempat berlindung dari serangan musuh.

"Sehingga muncul sebuah sumpah, kapan Indonesia merdeka, maka tempat ini akan ditata kembali menjadi sebuah pura. Jadi dari tempat ini kita diajarkan nasionalisme, demokrasi, semangat perjuangan dan ilmu kepemimpinan yang benar-benar menyejahterakan masyarakat," imbuh Gusti Panji Anom.

Berdasarkan catatan Puri Anyar Sukasada, Pajenangan Panji Sakti dibangun tahun 1620, tepatnya saat I Gusti Anglurah Ki Barak Panji Sakti mulai nampak sebagai penguasa di wilayah Denbukit. Sementara, petugas pemungut pajak Belanda mencatat keberadaan pura ini tahun 1886.

Seperti umumnya pura di Bali, tempat suci yang terbuka untuk seluruh umat Hindu, bahkan muslim (krama tatadan dari Jawa) ini, terdiri dari tiga mandala; nista, madya dan utama. Sebelum sembahyang, pamedek wajib menghaturkan sembah di Palinggih Ki Patih Sakti guna memohon izin.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top