Kesibukan menjalani latihan dan kompetisi membuat Veda tidak dapat sepenuhnya menjalani kehidupan sekolah seperti teman-temannya. Sebagian besar kegiatan belajar dilakukan secara daring, sementara kesempatan untuk bertemu teman dan menikmati masa remaja harus disesuaikan dengan jadwal balap.
"Mungkin sekolah ya. Kita tidak bisa seperti murid-murid atau anak muda lainnya. Kita jarang masuk sekolah, lebih banyak online. Masa-masa kecil yang biasanya anak-anak lakukan, seperti bertemu teman dan lain-lain, kita jarang," ujar Veda.
Jauh dari keluarga dan lingkungan tempat ia tumbuh juga menjadi bagian dari pengorbanan tersebut. Ketika berada di luar Indonesia, hal yang paling dirindukannya bukan hanya makanan khas Tanah Air, tetapi juga keluarga dan teman-teman yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan dan latihan balapnya.
"Yang paling kurindukan makanan, keluarga, terus teman-teman yang biasanya latihan bareng di Indonesia. Walaupun di sini juga ada teman-teman, tapi beda. Beda di Indonesia dan di luar," katanya.
Berbagai pengorbanan tersebut memperlihatkan bahwa pencapaian Veda hari ini bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Ada proses panjang, dukungan keluarga, disiplin, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Mandalika, Panggung Kebanggaan dan Harapan Motorsport Indonesia
Perjalanan Veda juga memiliki keterkaitan erat dengan Indonesia, khususnya melalui kehadirannya di Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit pada 9–11 Oktober 2026.










