Tak hanya itu, pemanfaatan aplikasi BRImo turut memberikan efisiensi dalam pengelolaan keuangan usaha. Melalui BRImo, pelaku usaha dapat melakukan pengecekan mutasi rekening secara real-time, transfer antarbank dengan cepat, hingga pembayaran berbagai kebutuhan operasional tanpa harus datang ke kantor cabang.
Kemudahan ini membuat pengusaha seperti Bayu dapat memantau arus kas harian dengan lebih praktis dan akurat, sehingga pengambilan keputusan bisnis menjadi lebih cepat dan tepat.
Selain itu, fitur notifikasi transaksi pada BRImo juga membantu meminimalisir risiko kesalahan pencatatan maupun potensi kehilangan dana, karena setiap transaksi langsung terpantau melalui ponsel. Bagi UMKM dengan mobilitas tinggi seperti usaha kuliner, fleksibilitas ini menjadi nilai tambah dalam menjaga efisiensi operasional.
Tren ini juga sejalan dengan perubahan perilaku konsumen. Ia mencatat sekitar 50 persen transaksi kini sudah menggunakan metode non-tunai, didominasi generasi muda, namun juga mulai diikuti kelompok usia lebih tua.
“Sekarang bukan hanya Gen Z, orang tua juga sudah banyak pakai non-tunai karena praktis,” tambahnya.
Meski memiliki peluang memperluas pasar ke segmen wisatawan premium, Bayu mengaku saat ini masih fokus menjaga stabilitas usaha. Baginya, bertahan di tengah gempuran bisnis kuliner baru justru menjadi prioritas utama dibanding ekspansi agresif.
“Kami fokus bagaimana usaha ini tetap berjalan dengan baik. Memaksimalkan yang sudah ada dulu,” tegasnya.
Kisah Depot Betty mencerminkan realitas banyak UMKM di Bali bertahan bukan hanya soal rasa, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan dengan fitur dari BRImo, memanfaatkan akses kredit KUR dari BRI serta beradaptasi dengan digitalisasi. Dengan kombinasi tersebut, usaha keluarga yang dimulai dari dapur sederhana di Pancasari kini mampu terus hidup, bahkan berkembang di tengah perubahan zaman.










