Dalam operasionalnya, Depot Betty saat ini menghabiskan 5–6 ekor babi per hari dari seluruh outlet. Bahan baku diperoleh dari peternak lokal di kawasan Pancasari, Candikuning, hingga Baturiti.
Menariknya, Bayu sangat selektif dalam memilih jenis babi. Ia lebih memilih jenis seperti saddleback, chester, dan yorkshire karena kandungan lemaknya dinilai menghasilkan tekstur kulit yang lebih renyah saat diproses menjadi babi guling. “Lemak itu penting untuk hasil akhir. Kulit jadi lebih kriuk,” ujarnya.
Di balik pertumbuhan Depot Betty, akses pembiayaan menjadi faktor krusial. Bayu mengaku mulai bekerja sama dengan perbankan sejak 2014, setahun setelah mengambil alih usaha. Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, ia memperoleh tambahan modal untuk mengembangkan usaha sekaligus merapikan manajemen keuangan.
“Dari awal kami dibantu dari sisi modal. Bahkan sampai pelunasan kredit juga berjalan lancar,” ungkapnya.
Kemudahan akses KUR dari BRI yang kini semakin inklusif dinilai menjadi angin segar bagi pelaku UMKM, terutama sektor kuliner yang membutuhkan perputaran modal cepat. Program ini tidak hanya membantu ekspansi usaha, tetapi juga menjaga keberlanjutan bisnis keluarga agar tidak terhenti di tengah jalan.
Selain permodalan, transformasi digital menjadi faktor penting lain dalam menjaga keberlanjutan usaha. Depot Betty kini telah mengadopsi sistem pembayaran non-tunai di seluruh outletnya. Melalui fasilitas QRIS, BRImo, EDC dari BRI, seluruh transaksi tercatat otomatis.
“Dengan digitalisasi, semua pemasukan tercatat. Jadi lebih mudah kontrol keuangan dan risiko kehilangan bisa ditekan,” kata Bayu.










