BRI Dukung Digitalisasi UMKM, Depot Betty Kembangkan Bisnis Keluarga ke Jaringan Kuliner

IMG-20260417-WA0061
Salah satu outlet Depot Betty yang tetap diburu pelanggan.

TABANAN-fajarbali.com | Di tengah ketatnya persaingan usaha kuliner Bali, kisah Depot Betty menjadi contoh bagaimana warisan usaha keluarga mampu bertahan lintas generasi dengan dukungan permodalan dan adaptasi teknologi.

Didirikan pada 2001 oleh orang tua, Depot Betty awalnya hanya warung sederhana yang menjual babi guling sekaligus daging mentah di Pasar Tradisional Pancasari. Namun tongkat estafet usaha beralih pada 2013, saat I Putu Bayu Ekayana mengambil alih usaha keluarga di tengah kondisi kesehatan sang ibu yang menurun.

“Awalnya saya bingung, karena latar belakang saya di hospitality, bukan kuliner. Saya bartender dulu, jadi sangat jauh dari dunia masak,” ujarnya.

Meski tanpa dasar kuliner, Bayu memilih belajar dari nol. Ia tidak mengubah resep utama warisan keluarga, melainkan memperkuat aspek yang sering diabaikan pelaku usaha kecil, pelayanan, kebersihan, dan standar higienitas.

Langkah tersebut menjadi titik balik. Berlokasi di jalur strategis Denpasar–Bedugul yang merupakan jalur nasional sekaligus rute wisata, Bayu melihat peluang memperluas pasar, tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga wisatawan.

Kini, Depot Betty telah berkembang menjadi beberapa titik usaha, dengan fokus utama di kawasan Bedugul sebagai destinasi wisata. Di saat banyak usaha kuliner tumbang dalam 3–5 tahun pertama, Depot Betty justru mampu bertahan hingga 25 tahun sejak berdiri.

Menurut Bayu, kunci utamanya adalah konsistensi menjaga kualitas rasa, pelayanan, serta keterbukaan terhadap kritik pelanggan. “Kami sangat terbuka dengan komplain. Dari situ kami tahu apa yang harus diperbaiki,” jelasnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top