Berhasil Direkonstruksi Setelah Punah 40 Tahun, Gambuh di Desa Pesedahan Wajib “Masolah” saat Buda Wage Kelawu

Gambuh

"Janamejaya menyadari kesalahannya. Dia nurut. Para naga lalu kembali ke suarga," urainya sembari menambahkan pesan moral di balik adalah menjaga nilai Tri Hita Karana dalam kehidupan. Selama pementasan, sesekali penonton tampak terbahak karena diselingi aksi kocak pragina.

I Ketut Karsika, Kelihan Dadia Pasek Gelgel lan Tangkas Kori Agung Pesedahan, menambahkan, selama vakum "nyolahang" gambuh, sejumlah warganya mengalami "kabrebehan" atau gangguan secara niskala.

Ke depan, warga berharap kehidupan menjadi lebih baik lagi seiring komitmen warganya melestarikan gambuh. Sebagaimana kehendak Ida Ratu Betara Bagus Panji.

Sebagai tambahan informasi, mengutip pernyataan budayawan Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, MA., gambuh merupakan seni yang paling tua. Gambuh ialah tarian yang terkadang lucu dan keras, terkadang kasar dan sengit, terkadang dilakonkan penari lanjut usia dengan keanggunan yang menghanyutkan, tapi terkendali.

Namun, di balik itu, ternyata Gambuh juga menyimpan hal menarik lain. Salah satunya Gambuh merupakan sumber dari tari Bali. "Gambuh merupakan dramaturgi yang paling tua dan dianggap sebagai sumber tari Bali," jelas Bandem dalam sebuah kesempatan.

Kapan Gambuh mulai ada di Bali? Sulit untuk diketahui tepatnya. Namun, dapat dikirakan, Gambuh sudah ada di Bali pada abad XV atau abad sesudah itu.

Bila dihubungkan dengan peristiwa sejarah di kala Majapahit runtuh pada pertengahan abad XV ketika khazanah sastra Jawa termasuk cerita Panji diboyong ke Bali, kesenian Gambuh diperkirakan muncul di Bali sekitar abad XV.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top