Berhasil Direkonstruksi Setelah Punah 40 Tahun, Gambuh di Desa Pesedahan Wajib “Masolah” saat Buda Wage Kelawu

Gambuh

"Kami susah payah bagaimana mengawali semua gerakan, peran demi peran, penabuh, pokoknya semua aspek sehingga memakan waktu tiga bulan. Hasil rekonstruksi pun tidak 100 persen sama dengan yang dulu," jelas Ida Ayu Adnyani.

Menemukan bibit penari dan penabuh gambuh juga menjadi kendala tersendiri. Proses ini dimulai lagi dari nol. Orang yang sudah punya dasar tari, terutama topeng direkrut sebagai pragina. Meski tidak menjadi jaminan cepat mahir memerankan tokoh-tokoh utama dalam tari gambuh. Tapi paling tidak "skill" ngagem sangat bermanfaat.

Karena gambuh termasuk kuno dan sakral, apalagi gelungannya di-"sungsung" gerakan penari bisa tidak sesuai koreografi latihan. Tapi tanpa disadari mengikuti kehendak Hyang Taksu atau Ida Sehuhunan.

Terkait tema cerita yang ditampilkan pada piodalan kali ini, Ida Ayu Adnyani mengungkapkan mengangkat "Sarpa Yadnya" dikutip dari wiracarita Mahabarata.

Diceritakan Raja Janamejaya, putra Prabu Parikesit dari Wangsa Kuru bertahta di Kerjakan Hastina Pura. Janamejaya bermaksud balas dendam atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh Naga Taksaka, sang raja naga yang diam di kerjaan Saptapatala.

"Atas saran dari bagawan Utangka, Raja Janamejaya membuat upacara Yadnya Sarpa Homa Kunda," terangnya.

Dengan kekuatan doa maharsi, seluruh wangsa ular secara gaib tersedot jatuh ke kunda dan mati. Naga Taksaka hampir saja jatuh namun diselamatkan oleh Dewa Indra dan disuruh kembali ke suarga loka.

Sang Astika, brahmana muda maha sakti yang masih keturunan naga diutus untuk menasihati Janamejaya agar menghentikan Yadnya Sarpa.  Sebab, jika naga Taksaka terbunuh, suarga loka akan hancur, jika naga Basuki terbunuh, lautan mengering dan jika naga Anantabogaa terbunuh, bumi akan bergetar lalu hancur.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top