"Mungkin Beliau (Ratu Betara Bagus Panji) kurang berkenan gelungan beliau dibawa kemana-mana. Hingga permata di gelungan beliau lenyap "melecat" secara misterius sewaktu pentas di luar. Hingga kami rancang menduplikasi gelungan khusus untuk pentas hiburan. Gelung sakral yang asli biarkan "malinggih" di palinggihnya," katanya.
Sebelumnya, Sumadi dan tokoh masyarakat telah melakukan berbagai upaya merekonstruksi gambuh Pesedahan. Tahun 2009, pihaknya bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, namun belum berhasil karena kurangnya narasumber.
Tak menyerah, upaya kolaborasi dengan berbagai pihak tetap dilakukan. Dan, akhirnya pada 2018 berhasil terekonstruksi dengan melibatkan tokoh-tokoh pembina gambuh dari Desa Budakeling, Karangasem.
Tari gambuh termasuk Gelungan Sakral Ratu Betara Bagus Panji sempat masolah pada Usaba Sambah desa setempat pascarekonstruksi. "Sayangnya keburu dihantam Pandemi Covid-19 di mana terjadi pembatasan kegiatan masyarakat," imbuh Sumadi.

I Nyoman Sumadi.
Kini, setelah endemi, tari gambuh akan rutin disajikan kembali terutama saat Buda Wage Klawu di Pura Penataran Pasek Gelgel dan Arya Tangkas Kori Agung, Desa Pesedahan.
Ia pun telah melakukan upaya regenerasi dengan mendirikan sanggar seni. "Gambuh ini adalah warisan leluhur kami yang sangat tak ternilai. Kami wajib melestarikan," kata Sumadi.
Pada kesempatan yang sama, tim rekonstruksi Ida Ayu Karang Adnyani Dewi, mengaku kendala yang dihadapi saat rekonstruksi karena rentang waktu vakum (40 tahun) sangat panjang.










